Global Ethics Forum 2026 di Bali Angkat Pertanyaan: Kemajuan untuk Siapa?

0

JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Pertumbuhan bisnis, teknologi, dan ekonomi kerap menjadi ukuran kemajuan. Namun, Global Ethics Forum (GEF) 2026 mengajak publik melihat pertanyaan lain: siapa yang sebenarnya menikmati hasil dari kemajuan tersebut?

Untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, GEF 2026 akan berlangsung di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober 2026. Forum yang diselenggarakan Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics ini mengusung tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy”.

Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang menjadi tuan rumah forum tersebut.

Etika Harus Hidup dalam Organisas

GEF 2026 menyoroti pentingnya memastikan pertumbuhan organisasi tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia berkembang.

Riset PPM Manajemen terhadap 282 responden dari 173 organisasi di lebih dari 20 sektor menunjukkan masih adanya kesenjangan antara nilai etika dan praktik di tempat kerja. Sebanyak 56,3 persen responden menyebut mekanisme pelaporan tersedia, tetapi hanya sekitar 55-60 persen yang merasa cukup aman menggunakannya.

Kesenjangan juga terlihat dalam sistem antikorupsi. Meski 98,6 persen responden menempatkan kejujuran sebagai nilai inti, hanya 15,8 persen organisasi yang memiliki sistem antikorupsi terstandar.

Wakil Presiden Globethics sekaligus pendiri YADEMA, Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, mengatakan human flourishing tidak semestinya hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi.

“Human flourishing bukan semata soal pertumbuhan ekonomi atau kesejahteraan individu. Ia soal menciptakan kondisi ketika manusia, komunitas, dan alam dapat berkembang bersama,” ujar Dicky.

Desain Organisasi Ikut Menentukan

Head of Corporate Strategy and Value Creation PPM Manajemen, Ar es Heru Prasetyo, PhD, menilai organisasi perlu membangun lingkungan yang mendukung perilaku etis.

Riset PPM Manajemen terhadap 444 responden mengembangkan dan menguji ETHOZ melalui dua perspektif, yakni ECHI untuk mengukur penerapan etika organisasi dan HCO yang melihat desain organisasi berpusat pada manusia.

Temuan tersebut menegaskan bahwa etika tidak cukup hanya dituangkan dalam aturan atau dokumen perusahaan. Nilai tersebut harus diterapkan melalui sistem, kepemimpinan, budaya, praktik, dan desain organisasi.

Gandeng 10 Organisasi Indonesia

GEF 2026 menggandeng 10 organisasi dari berbagai sektor, yakni PPM Manajemen, CNN Indonesia, National Geographic Indonesia, TribunNetwork, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, UNESCO Office Jakarta, Rotary Sentul Peace Club Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Hindu Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan memperkaya perspektif mengenai tata kelola, etika, teknologi, dan pembangunan.

GEF 2026 juga membawa perspektif Global South dalam percakapan internasional mengenai etika dan human flourishing. Konsep kesejahteraan dinilai tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya, martabat manusia, komunitas, lingkungan, dan hubungan sosial.

Rangkaian dialog yang dimulai di Jakarta akan berlanjut di Sanur, Bali, pada 20-22 Oktober 2026.

Pada akhirnya, GEF 2026 tidak hanya mengajak organisasi berpikir tentang seberapa cepat mereka tumbuh, tetapi juga mempertanyakan untuk siapa pertumbuhan itu terjadi dan apakah kemajuan tersebut benar-benar membuat manusia, komunitas, serta alam berkembang bersama. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.