“Tentunya ada kesulitan ketika harus menulis dalam bahasa Indonesia terutama dengan diksi yang baku. Berkali-kali kami harus memastikan bahwa kata ini memang benar ada di KBBI (red: Kamus Besar Bahasa Indonesia), Tantangan lain adalah mempelajari banyak kasus sabung ayam agar membuat lirik yang relevan,” ungkap band asal Malang ini.
Sang tokoh utama El Pollo Loco sendiri juga memiliki sebutan yaitu “Jagoan Kampung Timur”. Makna dari lirik lagu tersebut adalah menyindir adanya perjudian ayam dan penyiksaan hewan yang dilakukan oleh oknum orang yang tidak bertanggungjawab.
Maka dari itu diselipkan spoken words dalam bentuk orasi di lagu ini juga membuat Dimas sang vokalis berlatih beberapa kali agar terdengar seperti intonasi orang-orang yang berorasi dalam menyoroti kasus sabung ayam ilegal.
Single “El Pollo Loco” juga memberikan kesempatan bagi Seven Seventy untuk menjadi lebih santai dan ‘slengean’ dibandingkan karya terdahulu yang menuntut mereka untuk lebih serius.

Karya mutakhir dari band yang memiliki EP bertajuk “FALA AMO” ini memberikan banyak ide segar bagi mereka untuk mengolah visualisasi yang mampu mewakili keseruan lagu.
“Tentu sudah kami rencanakan dalam beberapa waktu ke depan, jadi untuk teman-teman pendengar ditunggu saja update-an terbaru dari kami,” infonya.
Lebih dari setahun menjalani waktu bersama dalam berkarya, Seven Seventy juga mengungkapkan bahwa ikatan antar personel semakin solid diiringi hadirnya single baru tahun ini.
“Dibandingkan dengan di awal terbentuk, saat ini kami sudah dapat terlihat memiliki karakter yang kuat antar personelnya, syukurnya sampai saat ini dari kami ber-5 masing-masing personel sudah menjadi satu chemistry dari ide dan gaya hidup/lifestyle yang berbeda-beda, tentu juga dari segi aksi panggung yang kami suguhkan,” tutup mereka. (red)