TabloidSeleberita.com – JAKARTA, 20 Januari 2025 — Musisi independen TANJUNG, moniker dari multi-instrumentalis Faishal Tanjung, merilis album penuh terbarunya berjudul Levitasi. Album ini menjadi penanda fase penting dalam perjalanan personal dan musikal TANJUNG, yang merekam proses pencarian makna hidup di usia 26 tahun.
Lewat Levitasi, TANJUNG tidak menyusun cerita secara linear. Album ini justru hadir seperti kumpulan potongan perasaan yang merefleksikan perjalanan batin—mulai dari spiritualitas, cinta, hingga relasi dengan dunia sekitar. Setiap lagu berdiri sebagai fragmen pengalaman yang dirangkai dengan jujur dan intim.
Secara musikal, Levitasi dibangun melalui lapisan vokal yang bergema, sentuhan psikedelik yang tekstural, distorsi gitar yang lembut namun emosional, ritme drum yang stabil, serta balutan synth yang menciptakan suasana kontemplatif. Seluruh elemen tersebut menghadirkan nuansa reflektif yang konsisten dari awal hingga akhir album.

Album ini lahir dari fase hidup yang dipenuhi keraguan. TANJUNG menyadari bahwa banyak hal dalam hidup bersifat sementara dan berada di luar kendali manusia. Pemahaman tersebut kemudian menjadi fondasi utama Levitasi, yang dimaknai sebagai kondisi mengambang—belum sepenuhnya menemukan arah.
“Dalam proses mengerjakan album ini, aku banyak meragukan banyak hal. Tapi lewat Levitasi, aku belajar bahwa merasa kehilangan arah itu bukan sesuatu yang salah. Semua fase akan berlalu,” ujar TANJUNG.
Meski keraguan masih kerap hadir, ia mengaku kini berada di titik yang lebih lapang. Penerimaan dan sikap bertawakal menjadi bagian dari proses yang ia jalani saat ini.
Lagu “Salahkah?” yang dikerjakan bersama Mattermos dipilih sebagai focus track. Lagu ini merepresentasikan isi album secara paling lugas, terutama dalam mempertanyakan mimpi dan cita-cita yang terus dikejar. Lirik “lama ku tunggu hari ku akan tiba” mencerminkan perjalanan panjang yang belum tentu berujung pasti, namun tetap dijalani.
Dari keseluruhan lagu, “Cerita di Senayan” menjadi nomor yang paling menggambarkan kondisi emosional TANJUNG saat ini. Lagu tersebut lahir dari kisah cinta yang personal, menggambarkan fase hidup yang kini dipenuhi rasa kasih dan kehangatan.
Sebelum album ini dirilis, TANJUNG lebih dulu memperkenalkan dua single, yakni “Lampaui” pada Oktober 2024 dan “Cerita di Senayan” yang berkolaborasi dengan J. Alfredo pada Januari 2025. Kedua lagu tersebut menjadi pengantar menuju Levitasi, sekaligus menandai langkah TANJUNG menggunakan lirik berbahasa Indonesia secara penuh untuk menjangkau pendengar yang lebih luas.
Melalui Levitasi, TANJUNG tidak menawarkan jawaban atas kegelisahan hidup. Album ini justru membuka ruang refleksi bagi pendengar yang tengah berada dalam fase ragu, mencari jati diri, atau belum menemukan arah. Sebuah pengakuan bahwa mengambang pun merupakan bagian dari perjalanan manusia. (Hero)