Patrick Lesmana Rilis “Yabai”, Ruang Bebas Eksperimen Prog-Rock dan Japanese Fusion

0

TabloidSeleberita – Jakarta,, 24 Desember 20025 – Setelah hampir setahun tanpa rilisan baru, gitaris asal Malang Patrick Lesmana kembali membuka ruang eksplorasi musikalnya lewat single berjudul “Yabai”.

Lagu ini menjadi pernyataan personal Patrick sebagai musisi instrumental yang menolak berhenti pada satu formula, sekaligus merayakan kebebasan bereksperimen dalam musik progresif dan fusion.

Kata “Yabai” dipilih bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, istilah ini memiliki makna yang cair—bisa berarti berbahaya, gila, hingga keren—tergantung konteksnya.

Fleksibilitas makna tersebut selaras dengan pendekatan komposisi yang Patrick bangun: spontan, penuh kejutan, dan tidak terjebak pada struktur yang kaku.

Secara musikal, “Yabai” bergerak di persimpangan progressive rock, jazz fusion, dan nuansa Japanese contemporary fusion.

Patrick mengakui ketertarikannya pada estetika budaya Jepang, mulai dari anime, seni visual, hingga musik fusion yang berkembang di sana. Nama-nama seperti Casiopea, T-Square, dan Dezolve menjadi referensi penting dalam membentuk karakter sound yang teknikal, presisi, namun tetap hidup.

Pengaruh tersebut berpadu dengan latar belakang musikal Patrick yang tumbuh bersama musik prog-rock dan jazz-rock era 60–80-an. Spirit eksperimental ala King Crimson, Frank Zappa, Genesis, hingga pendekatan gitar Allan Holdsworth terasa hadir, bukan sebagai tiruan, melainkan sebagai bahasa yang diolah ulang dalam konteks personal.

Menariknya, “Yabai” bukan hanya single mandiri. Lagu ini juga menjadi bagian dari EP “Yabai” yang telah dirilis pada 2023. Dalam proyek tersebut, Patrick tidak menempatkan gitar sebagai pusat dominasi. Semua instrumen diberi ruang yang setara, menjadikan komposisi sebagai elemen utama yang memimpin narasi musik.

Permainan time signature yang berubah-ubah, harmoni kompleks, dan improvisasi yang terkontrol menjadi ciri utama lagu ini. Namun, Patrick menekankan bahwa tantangan terbesarnya justru menjaga keseimbangan antara kerumitan teknik dan rasa, agar musik tidak kehilangan sisi emosionalnya.

Proses rekaman “Yabai” dilakukan secara independen di studio pribadinya, Suara Wibu Production, dengan Fransiscus Eko dari Cadaazz Pustaka Musik sebagai co-producer. Meski tanpa hambatan teknis berarti, kesibukan Patrick di berbagai proyek musik membuat proses menuju perilisan berjalan cukup panjang.

Ke depan, Patrick Lesmana berencana melanjutkan karya solonya dengan pendekatan genre yang berbeda. Ia ingin menjadikan proyek ini sebagai arsip perjalanan musikal—sebuah kolase dari berbagai referensi yang ia dengarkan sehari-hari, tanpa keharusan untuk menetap di satu gaya tertentu.

Single “Yabai” beserta EP-nya kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital. Sementara visualizer resminya tersedia di kanal YouTube Cadaazz Pustaka Musik, menjadi pelengkap visual bagi eksplorasi suara yang dihadirkan Patrick Lesmana. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.