TabloidSeleberita – Jakarta, 13 November 2025 — Gelombang aspirasi publik untuk mengembalikan Shin Tae-yong (STY) sebagai pelatih Timnas Indonesia semakin kuat. Hal ini tergambar dalam diskusi publik bertajuk “Pak Prabowo, Kembalikan STY ke Timnas Indonesia” yang digelar di Agreya Coffee, Menteng, Kamis (13/11/2025). Acara ini diinisiasi oleh Cokro TV, Nalar Sports TV, Geo Live, dan Retorika Show, menghadirkan pandangan dari berbagai tokoh olahraga, politik, dan komunikasi publik.
Diskusi tersebut dipandu oleh Noella Sisterina dan James Purba, serta menghadirkan narasumber seperti Haris Pardede (Pengamat Sepakbola), Effendi Gazali (Pakar Komunikasi Politik sekaligus pecinta Timnas Indonesia), dan Andre Rosiade (Politisi Partai Gerindra) yang bergabung secara daring melalui Zoom Meeting.
Tersingkirnya Timnas Indonesia dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang diikuti dengan pemecatan Patrick Kluivert memunculkan dorongan luas agar STY kembali dipercaya memimpin Garuda. Rekam jejak gemilang STY, termasuk kemenangan bersejarah atas Arab Saudi, menjadi alasan utama banyak pihak menilai keputusannya diberhentikan adalah langkah yang keliru.

Politisi Gerindra Andre Rosiade menilai bahwa mengembalikan STY adalah langkah yang rasional dan efisien.
“STY sudah memahami kultur sepak bola Indonesia. Secara hitungan juga lebih efisien dari sisi anggaran. Tapi tentu harus ada target yang jelas dari PSSI jika ia kembali,” ujar Andre.
Sementara itu, Effendi Gazali menyoroti keputusan PSSI yang dianggap tidak adil dan kurang transparan, apalagi terjadi setelah kemenangan penting Indonesia. Ia menilai dinamika ini perlu menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
“Mungkin ada pihak-pihak di sekitar Presiden yang perlu mengingatkan agar sepak bola kita mendapat perhatian serius,” kata Effendi.
Dalam pandangannya, Haris Pardede (Bung Harpa) menegaskan bahwa komunikasi publik PSSI selama ini masih kurang terbuka.
“Banyak detail yang tidak dijelaskan secara tuntas, padahal publik berhak tahu,” ujarnya.
Haris juga menilai tidak ada yang salah bila Presiden Prabowo berdialog dengan Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengenai masa depan sepak bola nasional.
“Dulu Presiden Jokowi juga memberi restu saat Erick maju sebagai Ketum PSSI. Jadi, kalau Presiden Prabowo ikut berdiskusi demi kebaikan sepak bola Indonesia, itu wajar dan positif,” tambahnya.
Lebih jauh, Haris menilai bahwa sepak bola memiliki kekuatan untuk mempersatukan masyarakat Indonesia di tengah situasi sosial dan ekonomi yang menantang. Ia menyebut keputusan PSSI memberhentikan STY sebagai “blunder” yang mengguncang harapan publik.
“STY bukan sekadar pelatih, tapi simbol persatuan dan semangat nasional. Suara ‘STY’ yang menggema di stadion adalah ekspresi keinginan rakyat,” ujarnya penuh makna.
Para pembicara sepakat bahwa saat ini PSSI perlu segera menentukan arah kepelatihan Timnas Indonesia, terutama menjelang AFF Cup 2026 dan Piala Asia 2027. Haris Pardede berharap PSSI secepatnya mengambil keputusan yang realistis dan berpihak pada kemajuan tim.
“Kalau memang ingin kembali berjaya, berikan STY kesempatan. Turunkan tim terbaik di AFF dan bangun moral positif menuju Piala Asia,” tegasnya.
Di penghujung diskusi, Andre Rosiade kembali menegaskan komitmen Presiden Prabowo terhadap kemajuan sepak bola Tanah Air.
“Presiden Prabowo memberi perhatian besar pada sepak bola Indonesia. Jangan ragukan komitmennya,” tutup Andre.
Diskusi publik ini menjadi refleksi nyata atas aspirasi masyarakat yang menginginkan sinergi antara pemerintah, federasi, dan publik agar sepak bola Indonesia berkembang secara profesional, transparan, dan berkelanjutan. (Hero)