Tenun Iban Sadap, Warisan Masyarakat Adat yang Menjaga Alam dan Identitas di Kapuas Hulu

0

JAKARTA, 4 Februari 2026 — Di tepian sungai Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, selembar kain tidak sekadar menjadi penutup tubuh. Bagi masyarakat adat Dayak Iban Sadap, tenun adalah bahasa kehidupan—cara merawat ingatan leluhur, menjaga alam, sekaligus meneguhkan identitas yang diwariskan lintas generasi.

Tenun Iban Sadap lahir dari keseharian. Di dalam rumah panjang, perempuan dari berbagai usia duduk berdampingan, menata benang sambil bertukar cerita. Aktivitas menenun menyatu dengan ritme hidup, bukan proses terpisah yang dikerjakan di ruang produksi modern.

Pewarna kain berasal dari daun, akar, dan kulit kayu yang tumbuh di wilayah adat. Sementara alat tenun dirakit dari bambu. Setiap tahapan mencerminkan relasi harmonis antara manusia dan alam, yang hingga kini masih dijaga masyarakat Iban Sadap.

“Tenun bagi kami bukan hanya kerajinan tangan, tetapi simbol identitas dan ekspresi nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, yang mengandung makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ujar Magareta Mala, penggerak Festival Tenun Iban Sadap.

Motif Tenun Sarat Nilai Kehidupan

Dalam tradisi Iban Sadap, motif tenun menyimpan makna mendalam. Setiap pola merekam cerita tentang alam, manusia, dan roh leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mala menjelaskan, terdapat empat jenis tenun Iban, yakni kebat, sungkit, pileh, dan sidan. Di antara semuanya, tenun kebat memiliki kedudukan khusus karena motifnya bersifat sakral.

“Tenun kebat wajib dimiliki. Motifnya digunakan dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari kelahiran hingga suasana suka dan duka. Simbolnya bisa berupa manusia, hewan, maupun benda bermakna,” kata Mala.

Nilai inilah yang ingin diperkenalkan kepada publik melalui Festival Tenun Iban Sadap perdana yang digelar pada pertengahan Desember lalu.

Menurut Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu, festival tersebut menjadi tonggak penting bagi keberlanjutan tradisi menenun.

“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi menenun masih hidup, bersama pengetahuan dan nilai yang menyertainya,” ujarnya.

Dari Alam dan Kembali ke Alam

Tenun Iban Sadap tidak bisa dilepaskan dari keberadaan hutan dan sungai di wilayah adat. Seluruh bahan baku menenun bersumber dari alam sekitar, sehingga kelestarian lingkungan menjadi kunci keberlanjutan tradisi.

“Ketika kami menenun, kami juga memelihara bumi. Tanaman pewarna tidak boleh dimusnahkan karena berhubungan langsung dengan tradisi. Jika wilayah adat hilang, maka tradisi menenun juga ikut terancam,” kata Sutomo.

Hal senada disampaikan Mala. Menurut dia, Festival Tenun Iban Sadap menjadi bukti bahwa masyarakat adat mampu mandiri tanpa bergantung pada bahan industri modern.

“Peralatan dari bambu, pewarna dari alam. Semua tersedia di sekitar kami,” ujarnya.

Kesadaran itulah yang membuat masyarakat adat Iban Sadap terus berupaya menjaga wilayah adat sebagai ruang hidup sekaligus ruang budaya. Pengakuan dan perlindungan negara terhadap masyarakat adat pun dinilai penting agar tradisi tersebut dapat terus berlanjut.

Rumah Panjang, Ruang Hidup dan Ruang Budaya

Di Desa Sadap, rumah panjang menjadi pusat kehidupan sosial. Bangunan memanjang yang dihuni banyak keluarga ini dipimpin oleh tuai rumah, figur adat yang menjaga keseimbangan relasi antarwarga dan alam.

Ruai, ruang bersama di rumah panjang, menjadi jantung aktivitas komunitas. Di tempat inilah acara adat digelar, diskusi berlangsung, dan kegiatan menenun dilakukan secara kolektif.

“Menariknya, menenun di ruai menumbuhkan semangat bersama. Ketika satu orang mulai menenun, yang lain ikut terdorong. Bukan persaingan yang menjatuhkan, melainkan saling memotivasi,” kata Sutomo.

Penenun Muda Menjaga Keberlanjutan

Regenerasi menjadi tantangan dalam pelestarian tradisi. Namun di Sadap, harapan itu masih terjaga. Salah satunya lewat Yosefa Kiki Nayah Sari, perempuan muda yang tetap menenun di sela aktivitas bekerja.

Bagi Yosefa, menenun adalah bagian dari hidup. Ia bisa menghabiskan berjam-jam duduk di depan alat tenun, terutama ketika melihat orang lain menenun di ruai.

“Kalau menenun ramai-ramai, jadi semangat. Rasanya seperti berlomba,” ujar Yosefa, yang belajar menenun sejak sering melihat ibu dan neneknya bekerja.

Mala berharap, keterlibatan generasi muda seperti Yosefa dapat menginspirasi rumah panjang lain.

“Jika semakin banyak anak muda yang bergerak, tenun Iban Sadap akan terus hidup, dan nilai wastra warisan leluhur tetap terjaga,” tuturnya. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.