JAKARTA TIMUR, TabloidSeleberita.com – Grup musik jazz fusion pop Spirit Band 86 kembali hadir di industri musik Indonesia setelah vakum hampir tiga dekade. Band yang berdiri sejak 1986 itu menandai kebangkitannya lewat perilisan ulang lagu Hanya Gairah dengan aransemen baru.
Spirit Band 86 didirikan oleh Eramono Soekaryo dan sempat dikenal pada era 1980-an hingga 1990-an sebagai salah satu kelompok musik jazz Indonesia. Mereka pernah merilis album Mentari pada 1992 sebelum berhenti beraktivitas pada 1996.
Kini, Spirit Band 86 membawa konsep “produk lama rasa baru” dengan mengaransemen ulang lagu-lagu lama agar lebih sesuai dengan perkembangan musik saat ini.
“Kami membawa konsep produk lama rasa baru. Lagu-lagu lama kami aransemen ulang dengan pendekatan lebih kekinian, tetapi tetap menjaga warna jazz fusion sebagai identitas utama,” kata Eramono Soekaryo dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).
Dalam formasi terbaru, Spirit Band 86 diperkuat Adrian Eramono (gitar), Jay Danu Prasetyo (keyboard dan synthesizer), Lili Amelia (vokal), serta Eramono Soekaryo (keyboard).
Single Hanya Gairah dipilih sebagai penanda fase baru perjalanan mereka. Lagu yang sebelumnya terdapat dalam album Mentari itu kini dibawakan dengan nuansa lebih dinamis.
“Kalau dulu nuansanya lebih shuffle klasik, sekarang kami buat lebih cepat dan mengikuti pendekatan musik internasional,” ujar Eramono.
Secara lirik, Hanya Gairah mengisahkan dinamika hubungan dua sahabat yang berkembang menjadi cinta. Lagu tersebut disebut terinspirasi dari pengalaman pribadi serta lingkungan pergaulan musisi pada masa itu.
Selain merilis ulang karya lama, Spirit Band 86 juga tengah menyiapkan materi baru.
Mereka ingin menghadirkan kembali katalog lama dengan kualitas produksi yang menyesuaikan standar saat ini.
Band ini juga menyasar pendengar muda, khususnya Generasi Z, yang belakangan dinilai mulai tertarik pada musik era terdahulu dengan kemasan baru.
Ke depan, Spirit Band 86 berencana kembali aktif tampil di berbagai panggung, mulai dari festival jazz nasional hingga tur kafe, serta membuka peluang kolaborasi dengan musisi lain.
“Kami pada dasarnya adalah pemain. Tampil di panggung tetap menjadi prioritas utama, selain terus berkarya di studio,” tutur Eramono. (Hero)
Pengamat Musik