TabloidSeleberita – JAKARTA, 11 Februari 2026 — Film horor Indonesia kembali kedatangan karya dengan pendekatan berbeda. Setan Alas hadir sebagai film independen yang memadukan satire dan meta-horor, menawarkan pengalaman menonton yang tak hanya menegangkan, tetapi juga reflektif terhadap pakem lama genre horor di Tanah Air.
Sang sutradara menyebut Setan Alas sebagai bentuk “selebrasi sekaligus kritik” atas kecintaannya terhadap film horor. Sejak kecil, ia mengaku akrab dengan tontonan bertema monster, alien, hingga kisah-kisah supranatural. Namun, ada satu hal yang mengganjal perhatiannya selama bertahun-tahun: pola karakter dan adegan yang terasa berulang.
“Dari era 1980-an sampai 2000-an, kenapa keputusan karakternya sering sama? Dalam situasi berbahaya tetap buka pintu, masuk ke tempat gelap sendirian,” ujarnya.
Keresahan itu kemudian menjadi pijakan kreatif dalam menggarap Setan Alas. Alih-alih sekadar menghadirkan teror, film ini mencoba mendekonstruksi pola-pola tersebut dan memelintirnya dengan sudut pandang yang tak biasa.
Karakter Sadar Hidup di Dalam Film

Secara konsep, Setan Alas mengusung pendekatan meta-horor, yakni film yang menyadari dirinya sebagai film. Karakter di dalam cerita digambarkan sadar bahwa mereka berada di dunia sinema. Eksplorasinya bahkan melampaui narasi utama dengan menyentuh proses casting dan elemen produksi.
Pendekatan ini membuat Setan Alas tidak hanya menjadi tontonan horor konvensional, tetapi juga komentar terhadap industri dan formula yang selama ini dianggap lazim.
Produksi Mandiri, Libatkan Mahasiswa dan Siswa SMK
Sebagai proyek independen, Setan Alas digarap dengan semangat kolaborasi. Sekitar 90 persen kru yang terlibat merupakan pendatang baru di film panjang. Proses produksi juga melibatkan mahasiswa, siswa SMK, hingga ratusan pelajar dari Solo yang datang menggunakan bus untuk menjadi figuran.
Pendanaan film ini pun dilakukan secara swadaya, mulai dari dana pribadi hingga pinjaman kredit usaha rakyat. Target penonton yang ditetapkan relatif realistis, yakni 150.000 penonton sebagai titik aman untuk menutup biaya produksi.
“Kami ingin memberi tawaran baru di film Indonesia,” kata sang sutradara.
Harapan Lahirnya Suara Baru Perfilman Indonesia
Di luar aspek komersial, Setan Alas juga membawa misi edukatif. Sang sutradara yang juga berkecimpung di dunia pendidikan berharap semakin banyak sekolah dan kampus dengan fasilitas multimedia berani memproduksi film sendiri.
Menurutnya, kemajuan perfilman nasional akan lebih cepat tercapai jika muncul lebih banyak karya dari berbagai daerah, bukan hanya terpusat di Jakarta. Dari ratusan film yang mungkin lahir, ia meyakini akan ada sejumlah karya segar yang mampu berbicara di tingkat festival internasional.
Setan Alas dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 Maret. Film ini menawarkan sensasi berbeda: rasa takut yang diselingi tawa, sekaligus ajakan untuk melihat ulang formula horor yang selama ini dianggap baku di layar lebar Indonesia. (Hero)