SANFFEST 2025 Jadi Wadah Dakwah Kultural Santri Lewat Film, Bunda Neno Dorong Pesantren Masuk Dunia Kreatif
TabloidSeleberita – Jakarta, 22 Desember 2025 – Santri Film Festival (SANFFEST) 2025 menegaskan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keislaman, tetapi juga ruang lahirnya karya kreatif yang membawa nilai dakwah dan kebudayaan.
Melalui medium film, para santri didorong untuk menyampaikan pesan moral, kemanusiaan, dan keislaman secara kontekstual dan relevan dengan zaman.
Ketua Komite SANFFEST 2025, Neno Warisman, menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan ikhtiar bersama untuk membuka ruang ekspresi santri dalam bingkai nilai-nilai pesantren. Menurutnya, SANFFEST hadir sebagai jembatan antara tradisi keilmuan Islam dan perkembangan industri kreatif nasional.

“Santri memiliki kekayaan nilai, adab, dan sudut pandang yang khas. Ketika nilai itu disampaikan melalui film, ia menjadi dakwah kultural yang menyentuh dan membumi,” ujar Neno menjelang Malam Anugerah SANFFEST 2025 di Jakarta.
Rangkaian SANFFEST 2025 berlangsung selama kurang lebih dua bulan, dimulai dari tahap ta’aruf pada 21 Oktober hingga malam penganugerahan pada 21 Desember 2025.
Selama proses tersebut, para santri tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pendampingan intensif, pembinaan kreatif, serta penguatan narasi yang selaras dengan nilai keislaman dan kebangsaan.
Neno menilai, kualitas film-film karya santri tahun ini melampaui ekspektasi. Tidak sedikit karya yang mengangkat tema akhlak, keadilan sosial, keteladanan, serta dinamika kehidupan umat dengan pendekatan visual yang matang dan cerita yang kuat.
“Film-film ini membuktikan bahwa santri mampu berbicara tentang zaman tanpa kehilangan identitas. Mereka menyampaikan pesan dengan cara yang santun, cerdas, dan penuh makna,” tuturnya.
Selain sebagai ruang dakwah kreatif, SANFFEST 2025 juga menjadi pintu masuk santri ke dalam ekosistem ekonomi kreatif yang halal dan berkelanjutan. Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan, komunitas perfilman, dan platform pemutaran film yang membuka peluang distribusi karya santri secara profesional.
“Ketika karya santri ditayangkan dan diapresiasi secara layak, itu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap ikhtiar dan amanah kreativitas,” kata Neno.
Meski menghadapi keterbatasan, terutama dalam menghadirkan seluruh peserta dari berbagai daerah, semangat santri untuk hadir dan berpartisipasi tetap tinggi. Banyak di antara mereka rela menempuh perjalanan jauh demi menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun peradaban melalui karya.
Menutup keterangannya, Neno berharap SANFFEST dapat terus berlanjut dan menjadi agenda tahunan nasional yang memperkuat peran pesantren dalam dunia kebudayaan dan perfilman.
“Kami ingin SANFFEST menjadi rumah dakwah kreatif santri, tempat mereka tumbuh, belajar, dan menyalakan harapan bagi masa depan umat dan bangsa,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Malam Anugerah SANFFEST 2025 akan digelar di Sasono Langgen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Ahad, 21 Desember 2025, dan dijadwalkan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, tokoh budaya, serta para pegiat perfilman nasional. (Hero)