Review Film Esok Tanpa Ibu: Ketika AI Menjadi Ruang Rindu Seorang Anak

0

TabloidSeleberita.com – JAKARTA, 20 Januari 2026 – Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) mencoba menempatkan isu duka keluarga dalam lanskap yang dekat dengan kehidupan modern: kecerdasan buatan. Disutradarai Ho Wi-ding, film produksi BASE Entertainment ini mengangkat pertanyaan sederhana, tetapi relevan—sejauh apa teknologi bisa menggantikan kehadiran manusia, terutama seorang Ibu?

Cerita berpusat pada Rama atau Cimot (Ali Fikry), remaja yang kehilangan figur Ibunya (Dian Sastrowardoyo) akibat koma berkepanjangan. Ketidakhadiran sosok Ibu tidak hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga jarak emosional antara Rama dan sang Ayah (Ringgo Agus Rahman). Rumah yang dulu hangat berubah menjadi ruang sunyi yang canggung.

Dalam keheningan itu, hadir i-BU, sebuah AI yang dipersonalisasi untuk meniru kehadiran sang Ibu. Teknologi ini menjadi tempat Rama berbagi cerita, rindu, dan ketakutannya—sebuah mekanisme bertahan yang terasa manusiawi, meski berasal dari mesin.

Kekuatan film ini terletak pada gagasannya. Esok Tanpa Ibu tidak menjadikan AI sebagai ancaman, melainkan sebagai perpanjangan emosi manusia yang rapuh. Film ini lebih tertarik mengeksplorasi perasaan kehilangan ketimbang konflik besar, sehingga ceritanya berjalan dengan tempo tenang dan minim dramatik.

Namun, pendekatan tersebut sekaligus menjadi tantangan. Alur cerita yang lambat dan dialog yang hemat membuat beberapa bagian terasa berlarut. Emosi dibangun secara bertahap, bukan melalui ledakan konflik, sehingga membutuhkan kesabaran penonton untuk benar-benar terhubung.

Penampilan Ali Fikry patut diapresiasi. Ia mampu menampilkan duka remaja dengan gestur dan ekspresi yang natural, tanpa berlebihan. Sementara Dian Sastrowardoyo hadir sebagai sosok Ibu yang hangat dan menjadi pusat emosional cerita, meski perannya lebih banyak hadir secara simbolik.

Esok Tanpa Ibu bukan film keluarga yang menawarkan hiburan ringan, melainkan ajakan untuk merenung. Film ini berbicara tentang kehilangan, kesepian, dan cara manusia modern mencari pengganti kehangatan di tengah kemajuan teknologi. Hasilnya adalah kisah yang lembut dan relevan, meski terasa berjalan pelan.

Bagi penonton yang menyukai drama reflektif dan tema relasi keluarga, Esok Tanpa Ibu bisa menjadi pengalaman yang menyentuh. Namun, bagi pencari cerita yang dinamis dan penuh konflik, film ini mungkin terasa sedikit hening—bahkan membosankan di beberapa bagian. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.