JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong agar gagasan inovatif para pelaku ekonomi kreatif tidak berhenti pada tahap ide.
Pemerintah membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pengembangan ide menjadi prototipe hingga produk komersial.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar saat menerima audiensi The Innovators Studio (TIS) di Autograph Tower, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Irene mengatakan, pemerintah perlu berperan sebagai penghubung antara kreator dengan pihak yang memiliki sumber daya, teknologi, jaringan industri, hingga akses pasar.
Menurut dia, sebuah ide perlu dihitung potensi nilai tambah dan perputaran ekonominya sebelum dikembangkan menjadi prototipe dan masuk tahap implementasi.
“Kementerian Ekraf tidak hanya ingin melihat ide berhenti sebagai ide karena membutuhkan kolaborasi lintas pihak,” kata Irene.
Ia menambahkan, 21 subsektor ekonomi kreatif yang berada di bawah Kementerian Ekraf memiliki talenta dengan beragam gagasan inovatif. Potensi tersebut perlu dipertemukan dengan ekosistem yang dapat membantu proses pengembangannya.
TIS Kembangkan Ide Menjadi Produk
Dalam pertemuan tersebut, TIS memaparkan pendekatan mereka dalam mengembangkan gagasan menjadi intellectual property (IP) dan produk komersial.
TIS menggabungkan desain, teknologi, dan storytelling dalam proses pengembangan produk. Sejumlah portofolio yang dipaparkan antara lain riset penataan kota Neo Sabang dan pengembangan social bracelet berbasis chip NFC.

Perwakilan TIS, Mr. Q, mengatakan salah satu persoalan yang dihadapi inovator Indonesia adalah keterbatasan akses terhadap komponen, peralatan, dan teknologi ketika sebuah ide mulai memasuki tahap pembuatan prototipe.
“Kami melihat sebenarnya orang-orang Indonesia memiliki banyak ide yang menarik. Tantangannya adalah ketika ide tersebut masuk ke tahap prototipe, masih terkendala komponen, peralatan, dan akses teknologi,” ujar Mr. Q.
Perluas Akses Inovator
Melalui penjajakan kerja sama dengan TIS, Kementerian Ekraf juga membahas penguatan jejaring inovator serta akses terhadap industri.
Kolaborasi tersebut berpotensi melibatkan asosiasi industri, komunitas makers, pemasar, investor, hingga pemerintah daerah.
Kementerian Ekraf berharap sinergi lintas disiplin tersebut dapat mempercepat proses dari pengembangan gagasan, pembuatan prototipe, hingga komersialisasi produk kreatif.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif menjelang World Conference on Creative Economy (WCCE) yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026.
Dalam audiensi itu, Irene Umar turut didampingi Kasubdit Komersialisasi Kreativitas Teknologi Kementerian Ekraf Hario Bismo Kuntarto. (Hero)