JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Industri film anak Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kesinambungan produksi, kualitas cerita, hingga persaingan dengan konten hiburan global.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Film Anak Indonesia bertajuk “Tantangan Industri Film Anak” yang dimoderatori oleh Mario Tetelepta dan digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).
Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni mengatakan, minat kreator untuk membuat film anak sebenarnya cukup besar.
Menurut dia, hal itu terlihat dari kompetisi ide cerita film anak yang baru digelar BPI. Kompetisi tersebut menerima 499 proposal dari kreator di berbagai daerah di Indonesia.
Dari ratusan proposal tersebut, BPI kemudian memilih 10 konsep cerita terbaik.
“Pesertanya yang mendaftar 499. Kemudian kami pilih 10 konsep terbaik. Kami akan melakukan workshop dan kemudian akan ada pitching kepada produser,” ujar Fauzan dalam diskusi tersebut.

Ia mengatakan, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencari ide cerita, tetapi juga memberikan kesempatan kepada kreator agar konsep yang mereka miliki dapat dikembangkan menjadi proyek film.
Para kreator terpilih akan mengikuti workshop bersama sejumlah pelaku industri sebelum memasuki tahap pitching dengan produser.
Film anak perlu diproduksi berkelanjutan
Fauzan menilai tantangan terbesar industri film anak bukan semata-mata kurangnya ide dari kreator, melainkan bagaimana membuat produksi film anak dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Menurut dia, keberadaan film anak di bioskop perlu dijaga agar tidak hanya muncul sesekali.
“Indonesia butuh film anak. Minimal dalam satu tahun film anak itu rilis di bioskop dua kali,” kata Fauzan.
Ia menilai waktu libur sekolah dapat menjadi salah satu momentum yang potensial untuk penayangan film anak.
Jika produksi tidak berkesinambungan, kata Fauzan, berbagai persoalan yang dihadapi film anak akan sulit teratasi.
“Kalau dua kali saja tidak bisa berkesinambungan, maka tantangan yang ada di dalam film anak tidak akan bisa terjawab,” ujarnya.
Berharap ada dukungan pemerintah
Fauzan juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap produksi film anak.
Menurut dia, dukungan afirmasi diperlukan untuk membantu menciptakan ekosistem yang memungkinkan film anak diproduksi secara berkelanjutan.
Ia mencontohkan program afirmasi pemerintah terhadap film dengan tema tertentu yang telah dilakukan tahun ini.
“Kalau tahun ini pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan melakukan program afirmasi untuk film bertemakan pahlawan dan sejarah, saya berharap tahun depan untuk film anak,” kata Fauzan.
Film anak harus dekat dengan generasi sekarang
Selain kesinambungan produksi, kualitas film menjadi persoalan lain yang perlu diperhatikan.
Fauzan mengatakan, film anak Indonesia harus mampu bersaing dengan berbagai tontonan yang dikonsumsi anak-anak saat ini.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuat anak-anak memiliki akses yang luas terhadap konten dari berbagai negara.
Karena itu, pembuat film tidak cukup hanya mengandalkan tema yang dianggap sesuai untuk anak.
“Kualitas itu sebenarnya kalau di dalam film minimal ada dua. Satu storytelling, bercerita, narasinya. Yang kedua teknologi,” ujarnya.
Ia mengatakan cerita film anak harus mampu berbicara langsung kepada anak-anak dan relevan dengan kehidupan mereka.
Pendekatan tersebut penting agar film tidak terasa seperti orang dewasa yang sedang memberikan nasihat kepada anak.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga perlu diikuti oleh para pembuat film.
Anak-anak saat ini sudah terbiasa dengan media sosial, gim, televisi, hingga layanan streaming. Kondisi tersebut membuat standar tontonan mereka ikut berubah.
“Filmmaker di sini dengan tantangannya bahwa teknologi harus benar-benar ter-update, ter-upgrade supaya relate dengan anak-anak sekarang,” kata Fauzan.
Orangtua ikut menentukan pilihan tontonan
Dalam diskusi tersebut, peran orangtua juga menjadi perhatian.
Film anak dinilai tidak hanya harus menarik bagi anak, tetapi juga mampu meyakinkan orangtua untuk mengajak anak menontonnya.
Sebab, keputusan untuk membawa anak ke bioskop umumnya tetap melibatkan orangtua.
Perwakilan penyelenggara, Herty Purba, mengatakan kampanye mengenai film anak juga perlu melibatkan orangtua.
Menurut dia, film dapat menjadi salah satu media untuk membantu anak memahami cerita, karakter, dan nilai-nilai tertentu.
“Film anak punya maksud dan punya manfaat yang baik. Film anak itu mengharapkan orangtua mengajak anak-anaknya untuk menonton,” ujar Herty.
Ia juga menilai dukungan terhadap film anak merupakan bagian dari upaya memenuhi hak anak untuk mendapatkan tontonan yang sesuai.
PFN Heritage diharapkan menjadi ruang kreatif
Kreatif Merdeka Carnival 2026 diselenggarakan PT Avatara Lintas Media. Selain diskusi mengenai film anak, rangkaian kegiatan tersebut membahas sejumlah isu industri kreatif, seperti konten digital, artificial intelligence (AI), animasi, dan disabilitas.
Herty berharap PFN Heritage dapat berkembang sebagai ruang yang mempertemukan pelaku industri kreatif dengan masyarakat.
“Planning-nya memang PFN Heritage ini menjadi satu hub. Berharapnya apa saja yang berhubungan dengan film, musik, dan semua yang berbentuk kreatif bisa ada di sini,” kata dia.
Diskusi Film Anak Indonesia diikuti pelajar dan guru SMA, SMK, dan MA serta generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap perfilman dan industri kreatif.
Melalui forum tersebut, para pelaku industri berharap pembahasan mengenai film anak dapat berlanjut pada upaya konkret untuk memperkuat produksi, meningkatkan kualitas, serta memperluas akses penonton terhadap film anak Indonesia. (Hero)