Film Esok Tanpa Ibu Rilis Trailer dan Poster Resmi, Angkat Dilema Keluarga dan Teknologi AI Jelang Tayang Januari 2026
TabloidSeleberita – Jakarta, 17 Desember – Menjelang penayangannya di awal 2026, film drama keluarga Esok Tanpa Ibu resmi merilis official trailer dan poster yang menyuguhkan emosi hangat sekaligus reflektif. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026, menghadirkan kisah tentang kehilangan, kerinduan, dan relasi keluarga di tengah kemajuan teknologi kecerdasan buatan.
Diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, serta mendapat dukungan dari Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media Development Authority (IMDA), Esok Tanpa Ibu sebelumnya telah diputar perdana di JAFF 2025 dan menuai perhatian penonton.
Trailer resmi film ini menyoroti hubungan emosional antara seorang remaja bernama Cimot (Ali Fikry) dengan sang Ibu (Dian Sastrowardoyo). Cimot digambarkan sebagai anak yang menjadikan ibunya tempat berbagi segala hal, mulai dari kegelisahan hingga kebahagiaan. Sebaliknya, ia justru menjaga jarak dengan Ayahnya (Ringgo Agus Rahman), yang membuat relasi keduanya terasa kaku.

Situasi berubah drastis ketika sang Ibu mengalami koma. Kehilangan figur yang paling dekat dengannya membuat Cimot terpuruk, sementara hubungan ayah dan anak semakin dipenuhi konflik yang tak terucap. Dalam kondisi tersebut, Cimot menemukan jalan yang tak terduga melalui sebuah teknologi AI bernama i-Bu, yang memungkinkan sosok Ibu hadir kembali dalam wujud digital.
Nuansa emosional trailer semakin kuat berkat penggunaan lagu “Jernih” dari Kunto Aji serta “Raih Tanahmu” dari hara & Nosstres. Kedua lagu tersebut memperdalam atmosfer haru, terutama saat AI yang merepresentasikan sang Ibu kembali “berinteraksi” dengan Cimot dan Ayahnya, memunculkan pertanyaan besar: bisakah teknologi menggantikan kehadiran manusia yang telah pergi?
Sementara itu, poster resmi Esok Tanpa Ibu menampilkan Dian Sastrowardoyo, Ali Fikry, dan Ringgo Agus Rahman berbaring di hamparan bunga putih, dibingkai visual menyerupai layar gawai. Visual ini menjadi simbol benturan antara kasih sayang alami manusia dan teknologi yang berusaha menirunya.
Film ini disutradarai oleh Ho Wi-ding, sineas asal Malaysia, dengan naskah yang ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief. Shanty Harmayn dan Dian Sastrowardoyo bertindak sebagai produser, menjadikan proyek ini sebagai kolaborasi lintas negara dengan tema yang relevan secara global.
Produser Shanty Harmayn mengungkapkan bahwa film ini lahir dari proses panjang dan diskusi mendalam mengenai keluarga serta dampak teknologi terhadap hubungan manusia. Ia berharap kisah Esok Tanpa Ibu dapat menyentuh emosi penonton dan memicu refleksi personal.
Dian Sastrowardoyo pun menyebut perannya sebagai Ibu dalam film ini sangat dekat dengan realitas banyak keluarga. Menurutnya, sosok ibu menghadirkan rasa aman dan pemahaman yang tidak bisa sepenuhnya tergantikan, bahkan oleh teknologi secanggih apa pun.
Selain tiga pemeran utama, film ini juga dibintangi oleh Aisha Nurra Datau dan Bima Sena, yang memperkaya dinamika cerita.
Dengan pendekatan emosional dan isu modern, Esok Tanpa Ibu menjadi salah satu film Indonesia yang dinanti pada awal 2026.
Ikuti kabar terbaru seputar film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) melalui media sosial resmi, dan saksikan kisah menyentuh ini di bioskop mulai 22 Januari 2026. (Hero)