JAKARTA, TabloidSeleberira.com – Kolaborasi desainer Australia dan Indonesia mewarnai perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 melalui Australian Runway Showcase. Peragaan busana ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan industri kreatif kedua negara melalui pertukaran gagasan, budaya, dan inovasi fesyen.
Dalam acara yang digelar oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta bersama Jakarta Fashion Week tersebut, tiga desainer tampil memperkenalkan karya mereka. Mereka adalah Shiva Yousefpour melalui label SHIYO, Angelita Nurhadi dari Studio Jeje, serta Astrid Nadia dari ANW.
Australian Runway Showcase sekaligus menjadi penutup Program Pertukaran Kreatif Australia-Indonesia yang berlangsung selama 12 bulan. Program ini mempertemukan desainer dari kedua negara melalui kegiatan pertukaran profesional dan pengalaman lintas budaya.
Sebelumnya, Angelita Nurhadi dan Astrid Nadia berkesempatan mengikuti program di Melbourne, Australia. Selama dua pekan, keduanya bertemu dengan sejumlah desainer Australia, mengikuti kegiatan bersama RMIT School of Fashion and Textiles, serta berpartisipasi dalam Melbourne Fashion Festival.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi dalam koleksi yang mereka tampilkan di Jakarta Fashion Week 2027.
Sementara itu, SHIYO menghadirkan perspektif desain kontemporer Australia dengan mengangkat pendekatan keberlanjutan dan inovasi dalam fesyen.
Penjabat Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Nicola Campion, mengatakan, program tersebut membuka ruang bagi desainer kedua negara untuk saling bertukar pengetahuan sekaligus memperluas hubungan industri kreatif.
“Fesyen menciptakan peluang bagi hubungan antarmasyarakat, pertukaran budaya, dan kemitraan baru,” ujar Nicola.
Menurut dia, program pertukaran tersebut memungkinkan desainer Australia dan Indonesia berbagi gagasan, belajar dari pengalaman masing-masing, serta memperkenalkan potensi industri kreatif kedua negara.
Peluang kerja sama industri fesyen
Kolaborasi Australia dan Indonesia tidak hanya diarahkan pada pertukaran ide kreatif, tetapi juga membuka peluang kerja sama ekonomi di sektor fesyen.
Nicola berharap hubungan yang terbangun melalui program tersebut dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang, termasuk dalam bidang desain, tekstil, seni, dan musik.
Indonesia dinilai memiliki kekayaan sejarah desain dan tekstil, sementara Australia mempunyai ekosistem pendidikan dan industri fesyen yang dapat mendukung pengembangan talenta kreatif.
Potensi kerja sama juga mencakup rantai produksi, mulai dari pengembangan desain, pengadaan bahan tekstil, keterampilan pengrajin, hingga proses manufaktur.
Dengan demikian, kolaborasi kedua negara diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan peragaan busana, tetapi dapat berkembang menjadi peluang bisnis bagi pelaku industri fesyen.
SHIYO berbagi wawasan tentang fesyen berkelanjutan
Selain memperkenalkan koleksi di atas panggung, Shiva Yousefpour juga mengikuti sesi diskusi desainer bersama RMIT School of Fashion and Textiles.
Dalam sesi tersebut, ia berbagi pengetahuan mengenai fesyen berkelanjutan, desain sirkular, serta upaya mengurangi limbah dalam industri fesyen.
Diskusi tersebut melibatkan desainer, mahasiswa, dan profesional industri fesyen di Indonesia.
Keterlibatan RMIT dalam program ini juga memperlihatkan pentingnya pendidikan dan pertukaran pengetahuan untuk mengembangkan industri kreatif lintas negara.
Melalui Australian Runway Showcase, Australia dan Indonesia berupaya memperluas kerja sama di sektor fesyen dengan menggabungkan kreativitas, kekayaan tekstil, inovasi, dan potensi ekonomi.
Program ini sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara melalui industri kreatif yang memiliki ruang kolaborasi lintas budaya. (Hero)