Dee Lestari Kembali ke Ruang Bernyanyi Lewat “(Jangan) Jatuh Cinta”

0

TabloidSeleberita.com – Jakarta, 12 Januari 2026 – JAKARTA — Nama Dee Lestari telah lama melekat sebagai penulis dengan karya-karya yang berpengaruh. Namun, jauh sebelum dikenal lewat novel dan esai, Dee lebih dulu menjadikan musik sebagai ruang berekspresi. Kini, setelah jeda panjang, ia kembali ke ruang itu lewat single “(Jangan) Jatuh Cinta”, lagu yang menjadi penanda awal perjalanan menuju album solo ketiganya.

Karier musik Dee dimulai sejak era Rida Sita Dewi pada pertengahan 1990-an. Album solo Out of Shell (2006) dan proyek Rectoverso (2007) menegaskan posisinya sebagai musisi dengan pendekatan personal dan puitis. Lagu “Malaikat Juga Tahu” bahkan melampaui zamannya, hidup dalam berbagai versi dan generasi pendengar. Di luar itu, Dee juga menulis lagu untuk banyak musisi Indonesia lintas generasi, dari Marcell hingga Raisa, dari Andien hingga Ariel NOAH.

Namun, perjalanan Dee sebagai penyanyi solo berjalan beriringan dengan kiprahnya sebagai penulis. Fokusnya pada dunia literasi selama bertahun-tahun membuat aktivitas bermusiknya berjalan lebih senyap. Hingga pada 2024, sebuah peristiwa personal mengubah ritme hidupnya. Kepergian sang ayah membawa duka mendalam, sekaligus menghadirkan ruang hening yang kemudian diisi Dee dengan bernyanyi, berulang kali, hampir setiap malam.

Dari momen-momen sunyi itulah, Dee kembali menemukan denyut yang lama tak ia rasakan. Bernyanyi tak lagi sekadar ekspresi, melainkan proses penyembuhan. Rasa itu kemudian tumbuh menjadi keyakinan untuk kembali berkarya dalam format yang lebih utuh: sebuah album.

Proses tersebut mulai dijalankan secara serius pada 2025. Bersama tim manajemennya—Arie Dagienkz, Riko Prayitno (Mocca), Bayu Fajri, dan Anthono—Dee menyiapkan album solo ketiganya. Lagu “(Jangan) Jatuh Cinta” dipilih sebagai pembuka, sekaligus pernyataan awal tentang arah musikal yang ingin ia tempuh.

Dalam lagu ini, Dee mengangkat tema yang sederhana namun dekat dengan pengalaman banyak orang: pertentangan antara logika dan perasaan ketika berhadapan dengan cinta. Liriknya bergerak tenang, reflektif, dan jujur—ciri yang sejak awal melekat pada karya-karya Dee. Cinta digambarkan sebagai sesuatu yang datang tanpa menunggu kesiapan, tanpa tunduk pada perhitungan.

Untuk mengolah nuansa tersebut, Dee menggandeng Rendy Pandugo sebagai produser, dengan Teddy Adhitya sebagai vocal director. Aransemen dibangun dengan pendekatan hangat dan intim, menghadirkan lapisan gitar yang lembut serta harmoni vokal yang membingkai cerita lagu. Sentuhan mixing dan mastering oleh Dimas Pradipta menjaga keseimbangan antara kesederhanaan dan kedalaman emosi.

Sebelum dirilis secara luas, “(Jangan) Jatuh Cinta” telah diperkenalkan dalam showcase Bocor Tipis di Jakarta dan Yogyakarta. Respons positif yang diterima menjadi penegas bahwa kembalinya Dee ke dunia musik disambut dengan antusias.

Kini, “(Jangan) Jatuh Cinta” telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Lagu ini bukan hanya penanda album baru, tetapi juga cermin perjalanan personal Dee—tentang kehilangan, pemulihan, dan keberanian untuk kembali membuka diri pada rasa. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.