Beda Genre, Lafa Pratomo, Bilal Indrajaya, dan The Jansen Bertemu di “terabas”

0

JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Lafa Pratomo merilis lagu terbaru berjudul “terabas” pada Selasa (15/9/2026).

Dalam lagu tersebut, Lafa menggandeng penyanyi Bilal Indrajaya dan band The Jansen.
“terabas” menjadi lagu ketiga dari proyek Extended Play (EP) Garis Tegak yang digarap Lafa Pratomo bersama sejumlah musisi lintas genre.

Berbeda dari dua lagu sebelumnya, Lafa kali ini mempertemukan Bilal Indrajaya yang dikenal dengan karakter popnya dengan The Jansen yang memiliki warna musik berbeda.

Menurut Lafa, perbedaan karakter musik tersebut justru menjadi alasan utama dirinya mempertemukan keduanya.

“Pertimbangannya justru karena mereka genre musiknya beda. Kalau genrenya sama kan terlalu ketebak,” ujar Lafa.

Ia mengatakan proses menyatukan dua karakter musik tersebut menjadi tantangan tersendiri.
Namun, proses kreatif di studio justru berjalan tanpa banyak kendala.

Bicara soal menghadapi rintangan

Selain menjadi pertemuan tiga karakter musik, “terabas” membawa pesan tentang keberanian menghadapi berbagai persoalan dalam hidup.

Lafa menjelaskan, judul lagu tersebut merupakan ide dari Bilal Indrajaya.

Judul itu kemudian disepakati oleh personel The Jansen dan Lafa.

Menurut Lafa, kata “terabas” menggambarkan sikap untuk terus melangkah meski menghadapi berbagai rintangan.

“Maknanya ya sudah hajar saja di hidup yang banyak rintangan ini. Jalani saja karena hal terbaik yang bisa kita lakukan dengan hidup ini kan hajar saja. Terabas saja!” kata Lafa.

Pesan tersebut juga berkaitan dengan kekuatan yang tidak selalu bersifat fisik.

Lafa memasukkan gagasan tentang doa dan kekuatan batin dalam lirik lagu tersebut.

Ia mencontohkannya melalui penggalan lirik, “Kutukanmu biasa saja, doa ibuku luar biasa.”

Menurut Lafa, lirik tersebut menggambarkan keyakinan bahwa seseorang dapat melewati berbagai persoalan dengan kekuatan doa.

“Kita ini punya kekuatan-kekuatan yang sifatnya non-fisik. Kayak kekuatan batin kalau kita ini bisa melewati banyak rintangan lewat kekuatan doa,” ujar Lafa.

Dibuat dalam tiga kali pertemuan

Proses penggarapan “terabas” dimulai dari percakapan Lafa, Bilal, dan The Jansen mengenai kehidupan serta arah musik yang ingin mereka buat.

Setelah berdiskusi, mereka masuk ke studio dan mulai mengembangkan ide secara bersama-sama.

Bilal kemudian memainkan riff gitar untuk bagian intro. Ide tersebut dikembangkan melalui respons melodi dari musisi lainnya.

Lafa mengatakan proses tersebut berlangsung cukup cepat.

Dalam satu hari, mereka sudah mendapatkan draft utuh lagu.

Pertemuan berikutnya digunakan untuk merekam instrumen dan vokal. Secara keseluruhan, proses pengerjaan “terabas” dilakukan dalam tiga kali pertemuan.

Bilal mengatakan perbedaan karakter musik justru membuat proses kolaborasi menjadi menarik.

“Surprisingly, ternyata enggak ada kendala apa pun ya. Ketika kami gonjrengan bareng nyambung aja ternyata,” ujar Bilal.

Menurut dia, masing-masing musisi tetap dapat mempertahankan karakter musiknya.

“Ini seperti menggabungkan tiga dunia yang berbeda lalu dijahit,” katanya.

Terinspirasi The Beatles

Dalam proses pengerjaannya, Lafa juga menyebut The Beatles sebagai salah satu referensi musikal.

Ia mengingat Bilal sempat memainkan intro lagu “I Want You (She’s So Heavy)” milik The Beatles ketika berada di studio.

Momen tersebut kemudian menjadi pemantik ide untuk membuat intro “terabas”.

“Kita kembangkan lagi bareng-bareng dengan imajinasi masing-masing,” ujar Lafa.

Pengalaman pertama The Jansen

Bagi The Jansen, pengerjaan “terabas” juga menjadi pengalaman baru.

Adji Pamungkas mengatakan, ini merupakan kali pertama The Jansen diproduseri musisi lain.

Sebelumnya, The Jansen sempat berkomunikasi dengan Lafa karena tertarik mengetahui seperti apa rasanya bekerja dengan produser lain.
Kesempatan tersebut akhirnya terwujud melalui proyek Garis Tegak.

Adji mengaku sempat memiliki kekhawatiran karena kemampuan The Jansen dalam memainkan musik pop berbeda dengan karakter musik Bilal.

Namun, Lafa disebut memberikan ruang bagi The Jansen untuk tetap berkontribusi.

“Sangat menyenangkan bisa diproduserin Mas Lafa. Ini pertama kalinya The Jansen diproduseri orang lain. Ternyata tidak semenakutkan yang kami kira,” kata Adji.

Sementara itu, Bilal mengaku sudah beberapa kali bekerja sama dengan Lafa.

Ia menggambarkan Lafa sebagai produser yang dapat beradaptasi dengan berbagai karakter musisi.

“Lafa itu kayak air, sangat fluid. Dia bisa bekerja dengan berbagai musisi yang beda-beda warna musiknya,” ujar Bilal.

Garis Tegak merupakan proyek EP kolaboratif yang terdiri dari enam lagu.

Dalam proyek tersebut, Lafa mempertemukan 12 musisi dengan latar belakang musik berbeda.

Proyek ini sekaligus menjadi penanda 12 tahun perjalanan Lafa Pratomo sebagai produser musik dan enam tahun KithLabo.

Untuk “terabas”, lagu ditulis Lafa Pratomo, Bilal Indrajaya, Cinta Rama Bani Satria, Adji Pamungkas, dan Raissa Faranda.

Proses workshop dan rekaman dilakukan di Syaip Studio milik Lafa Pratomo.

Proses mixing dikerjakan Rama Harto dan Hardy Susetio Palawa di RekamKamar, Jakarta. Sementara itu, proses mastering ditangani Dimas Pradipta di Sum It! Studio, Jakarta.

“terabas” resmi dirilis pada 15 September 2026 di berbagai platform musik digital. Video lirik lagu tersebut juga tersedia melalui kanal YouTube, sedangkan versi music video akan dirilis melalui kanal YouTube KithLabo. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

BAHASA BERITA LAINNYA»