Jakarta, Tabloidseleberita — Di tengah dominasi industri hiburan yang kian dipenuhi sensasi dan dorongan algoritma, konser bertajuk “Illaihi, Mahabah Allah” yang digelar di Ruang Usmar Ismail PPHUI menghadirkan nuansa berbeda. Pagelaran ini tidak sekadar menjadi pertunjukan musik, melainkan ruang refleksi spiritual, sosial, dan kebangsaan.
Konser yang diinisiasi oleh PWI Jaya Seksi Musik dan Film di bawah kepemimpinan Irish Riswoyo tersebut mengambil pendekatan yang tidak lazim di tengah tren musik populer. Alih-alih mengejar viralitas, acara ini menampilkan tembang-tembang bernuansa ketuhanan yang sarat makna.
Pilihan tersebut justru menjadi kekuatan utama. Di saat banyak panggung hiburan menawarkan kemeriahan tanpa kedalaman, konser ini menghadirkan kesadaran spiritual yang jarang ditemui, atau yang disebut sebagai nilai “Illaihi”.
Sejumlah karya Mbah Saeful Umar seperti Astafirullah, Tersenyumlah, Pemimpin, dan NKRI Harga Mati ditampilkan bukan hanya sebagai komposisi musikal, tetapi sebagai medium penyampaian pesan moral. Lirik-liriknya berfungsi sebagai doa, kritik sosial yang halus, serta pengingat akan keterkaitan antara spiritualitas dan kehidupan berbangsa.
Melalui lagu Astafirullah, penonton diajak untuk merendahkan ego di hadapan Tuhan. Sementara Tersenyumlah menyampaikan pesan optimisme di tengah tantangan zaman. Adapun Pemimpin dan NKRI Harga Mati menegaskan bahwa kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab moral yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan.

Kehadiran tokoh nasional Yusril Ihza Mahendra turut memperkaya dimensi acara. Partisipasinya menunjukkan bahwa musik spiritual mampu menjadi titik temu antara unsur religiusitas, intelektualitas, dan kebangsaan, melampaui batasan politik maupun kelompok.
Konser ini juga melibatkan sejumlah komunitas dan musisi, di antaranya Baruna dan Interstate Band, yang berkolaborasi menghadirkan pertunjukan bernilai artistik sekaligus reflektif. Keterlibatan berbagai elemen seni tersebut memperlihatkan bahwa musik tetap relevan sebagai medium pencerahan, bukan sekadar hiburan.
Dukungan dari ANTAM terhadap penyelenggaraan konser ini menjadi catatan tersendiri. Di tengah dominasi sponsor pada acara hiburan komersial, keterlibatan dunia usaha dalam kegiatan bernuansa spiritual dan kebudayaan menunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Secara keseluruhan, “Illaihi, Mahabah Allah” tampil sebagai alternatif di tengah arus utama industri hiburan. Tanpa mengandalkan kemewahan panggung, konser ini menonjolkan kedalaman pesan dan makna, menghidupkan kembali tradisi tembang yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak audiens untuk merenung dan memperbaiki diri.
Pagelaran ini menjadi representasi seni yang menyatukan, mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata berorientasi duniawi, melainkan juga perjalanan spiritual menuju kebaikan bersama. (red)