Puisi ‘Meditasi Batu’ Karya Pulo Lasman Simanjuntak Diperdanakan di Skotlandia lewat Musik Klasik Komponis Ananda Sukarlan
JAKARTA- Karya sastra Indonesia kini semakin mengokohkan eksistensinya di dunia musik klasik sebagai sumber inspirasi serta bahan penelitian artistik yang tiada habisnya.
Skotlandia pun tidak ketinggalan.
Zoe Hong Yee Huay, seorang mezzo-soprano Malaysia yang akan menyelesaikan kuliah Master of Music di Royal Conservatoire of Scotland (RCS), Glasgow telah mempersembahkan resital tembang puitik atau art song untuk gelar S2-nya pada Kamis, tanggal 20 Maret 2025 lalu.
Resital Zoe Hong yang diadakan di Ledger Recital Room di RCS mulai pukul 15.30 sore terbuka dan gratis untuk umum, sebagai program pendidikan dan pemahaman kebudayaan dunia bagi para mahasiswa RCS.
Penonton hadir tanpa reservasi, hanya membawa kartu identitas -untuk keamanan-memasuki kompleks konservatorium yang beralamat di 100 Renfrew Street.
Bahan penelitian untuk tesisnya adalah tentang perkembangan genre tembang puitik di Asia Tenggara.
Salah satu komponis objek penelitiannya adalah Ananda Sukarlan, salah satu tokoh Tembang Puitik paling terkemuka di Asia.
Ananda Sukarlan diakui dunia telah memapankan hubungan sastra Indonesia dengan teknik musik klasik “Barat” dan membuktikan bahwa bahasa Indonesia memiliki “roh” yang dapat melahirkan karakter musik klasik yang unik dan berbeda dengan tembang puitik yang telah tercipta dari bahasa Jerman, Inggris dan lain-lain oleh komponis seperti Franz Schubert, Sir Michael Tippett atau Aaron Copland.

Untuk konsernya yang juga merupakan ujian akhirnya, Zoe Hong membawakan tembang puitik sebagai berikut:
- Kundiman Ng Luha – Nicanor Abelardo (komponis Filipina 1893 – 1934)
- Soto Ibu – Ananda Sukarlan (dari puisi Setiyo Bardono)
- Meditasi Batu – Ananda Sukarlan (dari puisi Pulo Lasman Simanjuntak)
- When we two parted – Wong Chee Yean
- Kehilangan – Wong Chee Wei
Kedua komponis terakhir adalah dari Malaysia, negara kelahiran Zoe Hong Yee Huay.
Zoe Hong meneliti belasan tembang puitik Ananda sebelum akhirnya memutuskan memilih dua judul tersebut untuk konsernya.
Ia mengenal berbagai tembang puitik Ananda sebelumnya, tapi baru menghubungi Ananda setelah diperkenalkan oleh seorang rekannya, soprano Rachel Wong Yong En dari Singapura yang beberapa tahun lalu juga menggunakan musik Ananda Sukarlan untuk riset kelulusannya di Yong Siew Toh National University of Singapore dan mempagelarkan karya-karya Ananda
Simak “Sonian Menjelang Senja” karya Farick Ziat
“Saya memilih ‘Soto Ibu’ karena mengandung dua unsur yang sangat penting dalam budaya Asia Tenggara, yaitu keluarga dan makanan. Sedangkan ‘Meditasi Batu’, saya suka simbolisme yang ada di dalamnya, seperti penggambaran kedalaman laut di tangan kiri sang pianis. Dua lagu ini juga kontras secara karakter”, demikian jelas Zoe Hong Yee Huay.
“Kebanyakan tembang puitik Ananda ditulis untuk soprano, register yang lebih tinggi daripada mezzo-soprano. Padahal karakter musik Ananda banyak yang “dark”, baik dari subyeknya maupun warna musiknya,” katanya lagi.
Puisi Meditasi Batu Pulo Lasman Simanjuntak
Tentang puisinya “Meditasi Batu”, sang penyair Pulo Lasman Simanjuntak menjelaskan bahwa puisi “Meditasi Batu ” ditulisnya atas satu inspirasi yakni sebuah peristiwa (Februari 2023) ‘akar kepahitan’ yang kembali terulang dalam kehidupan Pulo Lasman Simanjuntak sebagai penyair, pewarta, dan rohaniawan.
“Jadi sangat personal.Peristiwa -nyaris bipolar-tersebut membuat penyesalan begitu mendalam berbulan-bulan lamanya. Terjadi dalam sebuah rumah ibadah tua yang telah ‘diasingkan’ sekian puluh tahun,” katanya di Jakarta, Kamis pagi (8/5/2025).
Menurut Bung Lasman- panggilan akrabnya- amarah manusia lama meledak, keras. Sekeras batu karang terjal dan tajam. Sungguh memalukan !
Akhirnya-melalui sajak ini-diambil keputusan mengikuti suara ilahi dan penurutan. Walaupun saat itu masih dalam sebuah perjalanan di padang tandus, kering, dan gersang seperti perjalanan rohani bangsa ibrani.
” Maka harus saya akhiri dengan meditasi batu. Menyendiri di sebuah tanah kekal, tanpa suara, tanpa nyanyian dan pujian. Hanya berdoa dan membaca kitab suci dengan seribu ayat-ayat kudus hapalan, dalam roh dan jiwa. Supaya terbentuk karakter kuat, tegar, dan tak lagi goyah dengan iman berakar, bertumbuh, dan berbuah,” pungkasnya.
Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 35 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.Sejak tahun 1980 s/d tahun 2025 ini ratusan karya puisinya telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah ) serta dipublish (tayang) pada 255 media online (website) dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.Karya puisinya juga telah dikirim sampai ke Singapura, Brunei Darussalam, Republik Republik Timor Leste, Bangladesh, dan India.
Sering diundang baca puisi di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Radio Republik Indonesia (RRI) stasiun Jakarta, Cafe Sastra Balai Pustaka , dan sejumlah tempat komunitas sastra di wilayah Jabodetabek.
Sajak
Pulo Lasman Simanjuntak
MEDITASI BATU
pada akhirnya
kutikam pertarungan
berulangkali
tanpa belati tajam
amarah manusia lama
meledak
dari lautan
paling dalam
maka harus kuakhiri
dengan meditasi batu
untuk menabur suara ilahi
di tanah berbuah
tanpa harus melirik
tabiat orang lain
karena aku wajib
jadi manusia baru
Kontributor : Lasman Simanjuntak