Rustam Effendy Gitaris Band ‘Montecristo’ yang Nggak Bercita-cita Jadi Musisi

by -

tabloidseleberita.com, Menyebut nama Rustam Effendy mungkin akan membuat kita agak sedikit mengernyitkan dahi. Wajar saja Gitaris dari band Montecristo ini adalah bukan personil band populis yang banyak digandrungi oleh sekelompok anak muda yang menyebut dirinya sebagai generasi milenial.

Seperti diketahui Montecristo adalah band segmented yang menganut aliran progressive rock. Selain itu Montecristo juga kerap disebut sebagai band ‘berdasi’. Julukan itu muncul lantaran personel Montercristo sebagian besar juga berprofesi sebagai pengusaha.

Tahun 2017 kemarin Montecristo berhasil menyabet Karya Produksi Rock Progressive : Montecristo “A Deep Sleep” di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) award.

Beberapa waktu lalu, gitaris yang juga berprofesi sebagai pengusaha itu meluangkan waktunya untuk berbincang diruang kerjanya dikantornya dikawasan Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat.

Lewat bendera PT Indoaustra Utama Rustam mengendalikan bisnisnya yang bergerak dibidang electrical enginering. Namun semenjak pandemi Covid 19, Rustam mengaku kalau akitifitasnya lebih fokus mengurus bisnisnya ketimbang giat bermusiknya.

“Saat ini gue memang lagi fokus urus perusaahaan. Apalagi situasi sekarang ini karena banyak orang yang bergantung sama perusahaan ini.Gak bisa dihadapin dengan sekilas. Harus dihitung setaip hari. Bagaimana ini perusahaan bisa bernafas lebih panjang. Buat memastikan berapa lama lagi bisa bertahan hidup. Pandemi Covid 19 ini dampaknya sama bisnis gila-gilaan,” katanya membuka perbincangan.

Beruntunglah diluar kesibukan profesinya sebagai pebisnis dia masih bisa menyalurkan hobi bermusiknya. Menurutnya musik sangat memberikan warna baru atas kehidupannya. Setidaknya hal tersebut bisa dijadikan penyeimbang (balancing) dalam menjalani rutinitasnya saban hari. Wajar jika seperangkat alat musik (gitar) beserta, pedal (efect) dan amplifier berada persis didepan meja kerjanya.

“Gue kalau lagi senggang atau lagi mumet sama kerjaan. Ya gitar inilah yang jadi pelampiasan gue. Setidaknya kelar ngulik musik otak gue jadi refresh lagi. Makanya sengaja gue sediain set gitar, ampli, sama pedal efect ini gue taro diruangan kerja,” ucapnya.

Rustam mengaku kalau dirinya sedari kecil sudah terbiasa mendengar musik rock. Deep Purple, Led Zepelin, Slayer dan Sepultura, merupakan sebagian kecil deretan band yang kerap mampir ditelinganya kala itu. Makanya jangan heran jika hingga saat ini dia juga merasa susah move on dari luar lingkaran musik rock.

“Gue salah satu orang yang sangat milih pada musik baru, karena gue masih stuck dengan genre gue. Cold Play dan Muse gue suka tapi nggak sampai tergila gila juga, Makanya bini gue suka aneh kalo denger selera musik gue,” katanya.

Sebagai pendengar setia musik rock. Rustam paham betul hal tersebut bisa membentuk karakter kejiwaan dan pemikirannya pada waktu-waktu tertentu kala itu. Hal ini juga membuatnya kerap jaming dengan banyak band tanpa dia sendiri punya band tetap.

“Gue emang banyak jaming dengan band tapi gak pernah punya band formal (sendiri). Karena jadi pemain band emang bukan cita-cita gue. Semua gue lakukan karena bermusik nggak lebih dari sekadar gue punya hobi,” ujarnya.
“Kalau nggak ada musik mungkin gue gak ada seperti sekarang. Warna kehidupan gue jadi harmonis karena musik. Kalo gue maen musik apa yang gue suka. Kalo soal tenar dan disukai banyak orang itu adalah bonusnya,” sambungnya.

Membentuk Montecristo

Cerita dimulai pada bulan Januari 2006, ketika Rustam bertemu Eric di sebuah konser Dream Theater di Singapura. Sepulangnya dari Singapura keesikan harinya Rustam kembali bertemu Eric Martoyo dalam suasana kekeluargaan. Diskusi soal musik pun terus berlanjut.

Sejak pertemuan tersebut, Rustam dan Eric berbagi minat yang sama dalam musik. Mereka sering bertemu hanya untuk nongkrong di acara komunitas musik dan mendiskusikan banyak hal yang berhubungan dengan musik.

Sekitar Maret 2007, Rustam mengusulkan kepada Eric tentang pembentukan sebuah band dan Eric pun setuju dengan ide itu. Rustam kemudian meminta Fadhil dan Haposan, teman lamanya untuk bergabung dengan band. Tanpa pikir panjang, Fadhil dan Haposan sepakat untuk bergabung.

“Dulu itu kita ada milis MKaro, Masyarakat klasik rok. Mkaro. Jadi ngobrolin soal musik rock disitu. Makanya waktu pulang nonton konser Dream Theater di Singapura, pulang ke Jakarta besoknya gue ketemu Eric lagi di Plaza Indonesia pas jalan bareng ama anak gue. Disitu gue langsung ajakin Eric bikin band Montecristo,” ungkap Rustam mengisahkan.

Montecristo sendiri merupakan sebuah nama yang diambil dari sebuah merek cerutu premium dari luar negeri. Terbentuknya Montecristo berawal dari ketidaksengajaan. Tidak ada rencana sebelumnya untuk membentuk sebuah group band secara permanen. Namun karena sering latihan musik bersama, akhirnya terbentuklah Montecristo.

Jadilah sekarang Montecristo beranggotakan Eric Martoyo (lead vocal), Rustam Effendy (gitar), Fadhil Indra (piano, keyboards), Haposan Pangaribuan (bass), Alvin Anggakusuma (gitar) dan Keda Panjaitan (drum).

Sepanjang perjalanan bermusiknya Montecristo juga sudah menghasilkan album Celebration Of Birth (2010) dan A Deep Sleep (2016).

Berbeda dari album perdananya sepuluh tahun silam yang berjudul “Celebration of Birth” tentang kelahiran, sedangkan album keduanya bicara soal kematian. Rangkaian lagu dalam kedua album ini bercerita tentang fase di antara dua titik kehidupan.

Seperti diketahui Montecristo terbentuk dari “ide” dan “dana” independen. Tak ada sponsor yang mendanai. Dari hulu ke hilir dikerjakan secara swadaya. Demi menyalurkan passion, uang tak jadi masalah bagi mereka asal mampu menghasilkan karya yang original.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *