Menilik Jalan Panjang Iwan Hasan Sang Maestro Harp Guitar

by -

tabloidseleberita.com, Iwan Hasan adalah musisi lintas genre dan lintas negara milik Indonesia. Bagaimana tampilan figurnya? Ketika menyambangi lelaki gagah penggemar Kungfu ini, terkuak banyak sekali prestasi kepemusikannya. Seakan tak cukup menuliskannya dalam sebuah mini biografi. Iwan Hassan memang sudah selayaknya memiliki buku biografi. Perannya membumi sebagai Composer, Orchestra Arranger, Guitarist 21-string harp guitarist, Keyboardist dan Vocalist. Maka, dengan bangga, kita sarikan perjalanan sosok Iwan Hassan di bawah ini.

Bersama band progressive bentukannya Discus, Iwan mencapai popularitas internasional, bahkan seringkali menyabet penghargaan. Termasuk tentunya AMI Awards, sebuah penghargaan Musik prestisius di Indonesia. Discus yang didirikan 1996, beranggota Iwan Hasan, Fadhil Indra, Hayunadji, Krisna Prameswara, Nonnie Manuputty dan tiga musisi lainnya; Eko Partitur, Kiki Caloh dan Anto Praboe – ketiganya sudah almarhum. Discus merilis dua lbum yang beredar secara internasional. Album perdananya “1st” edar di seluruh dunia melalui distributor Italia, Mellow Records. Album ini mendapat ulasan sangat baik dari berbagai majalah musik progresif di Amerika, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Uzbekistan, Brazil hingga Argentina.

Discus yang kemudian diakui menjadi pelopor musik progresif di Indonesia bahkan membukukan fenomena sebagai grup musik Indonesia yang memiliki fan base ‘orang bule’ atau ‘bangsa barat’ baik di Amerika maupun di Eropa. Kepeloporan Discus kian menarik, karena kerapkali memadukan unsur etnik Indonesia dalam sajian musiknya. Tahun 2000 Discus mendapat undangan di berbagai festival dunia. Termasuk ProgDay di North Carolina, USA. Juga sekaligus tour di berbagai kota di Amerika. Setahun kemudian, 2001 – Discus tampil di festival Baja Prog di Mexico, dengan sangat sukses.

Popularitas Discus menanjak, dengan tampil di berbagai festival musik progresif di berbagai belahan dunia membuat Discus sangat diperhitungkan oleh berbagai Record Label untuk rilisan album keduanya “… tot licht!” (2004). Tercatat ada empat label internasional yang berniat mengontrak Discus. Termasuk Periferic (Hongaria), Moonjune/ Leonardo Pavkovic (USA), Iridea (Italia). Namun sebagai executive producer, Kiki Caloh memilih Musea (Perancis). Discus adalah musisi Indonesia pertama yang mendapat tawaran dari Moonjune, sebelum musisi Indonesia lain mengedarkan album di bawah record label yang sekarang ini makin berkembang tersebut. Hasilnya sungguh membanggakan, “…tot licht!” menduduki number 1 Sales Chart di amazon.co.jp. beberapa pekan.

2005 Discus melakukan concert tour ke Switzerland dan Jerman. Kedatangan Discus mendapat upacara penyambutan oleh Marion Schaffer, walikota Wurzburg, Jerman. Di dalam negeri album Discus yang dikelola oleh Ira & Chico Production juga memanen penghargaan. Discus kembali menyabet AMI Awards 2005 untuk album “… tot licht!” Setahun kemudian, majalah Rolling Stone Indonesia menempatkan album “1st” sebagai album Jazz terpenting dalam sejarah musik Jazz negeri ini. Dan Discus adalah satu-satunya musisi Indonesia yang ditulis namanya di buku The Progressive Rock Handbook.

INTEGRITAS MUSISI

Sebagai musisi (solois) Iwan Hasan sudah berperan dalam rilisan sekitar 30 album, baik sebagai penata musik (orkestra) maupun sebagai instrument player. Album tersebut beredar di label Indonesia, USA, Perancis, Italia dan Jepang dalam berbagai genre. Namun langkahnya tak henti sebagai gitaris, Iwan melaju sebagai Arranger, Composer dan pemain Harpguitar yang jumlahnya hanya berkisar 50 orang di seluruh dunia.

Sebagai Arranger, Iwan juga berkolaborasi dengan musisi lintas genre. Integritas Iwan bisa memasuki ranah Pop. Menulis arransemen orkestra untuk band Ungu, ST12, The Rain, Dianita, Cendana Band, Kla Project hingga terlibat dalam album Presiden SBY. Menyeberang ke genre Rock, Iwan ikut berperan dalam beberapa karya Boomerang, Piyu hingga band Getah.

Salah satu karya orkestrasi Iwan Hasan yang monumental di kancah Pop adalah ketika ikut mengawal sukses band Ungu, dengan big hits nya “Demi Waktu”. Kemudian berlanjut dengan intro orkestra instrumental “Cinta Dalam Hati” by Ungu (2006), dan “Overture” di album live grand akustik KLa Project (2014) yang waktu itu juga dikonserkan di Jakarta Convention Hall, Indonesia.

BELAJAR DI AMERIKA, TETAP CINTA INDONESIA

Selain sebagai penata musik dan komposer, Iwan Hasan adalah player harpguitar profesional. Menurutnya alat musik ini merupakan gabungan dari harpa dan gitar. “Waktu saya selesai kuliah di Willamete University, Amerika untuk mengambil jurusan musik, tepatnya di tahun 1991 saya belajar harpgitar. Saya belajar langsung dari pelopor harpgitar John Doan. Waktu itu masih sedikit yang main harpguitar,” kisah lelaki yang pernah meraih outstanding music student award di Willamete University tersebut.

Kakak dari pemain Harpa terkenal Maya Hasan ini punya karya musik yang unik. “Saya selalu menggabungkan harpgitar yang saya pakai dengan musik etnik, jazz, dan rock,” jelas Iwan Hasan, yang tahun 2015 terlibat dalam album “Indonesia Marahddhika” yang waktu itu digagas Mohammad Kadri. Di sinilah Iwan kembali bersinar, dengan menyabet penghargaan AMI Awards untuk kategori Artis terbaik kategori Produksi Karya Musik Progresif.

Sejak Iwan menulis aransemen lagu buat band Ungu, cemsitry nya dengan bassis Ungu, Makki Parikesit makin menyatu. Akhirnya terbentuklah Iwan and Makki Collective. “Sudah rekaman, vokalisnya, namanya fitra. Dia sarjana musik lulusan IKJ, mantan vokalis saya di Atmosfera,” kata Iwan. Proyekan ini sudah memproduksi single “Ragu” yang dimedley dengan lagu dari tanah karo berjudul “Sibincar Layo”.

Lantas bagaimana nasib album ketiga Discus? “Meski Eko Partitur, Kiki Caloh, Anto Praboe sudah wafat, bersama Fadhil Indra, Hajunadji, Krisna Prameswara dan Yuniati Arfah yang menggantikan Nonny Manuputty – album ketiga akan tetap kami produces. Kemungkinan besar rilis tahun 2021,” demikian kabar sukacita dari Iwan Hasan menutup pembicaraan.

Iwan Hasan juga diketahui sebagai penerima tiga penghargaan AMI Award (Anugerah Musik Indonesia). Dua diraihnya tahun 2004 sebagai pemimpin band Discus dan satu tahun 2015 sebagai artis tunggal. Juga nominator tahun 2018 untuk kolaborasi bersama Amelia Ong

Adalah satu dari tiga orang pemain harp guitar professional di Asia dan salah satu dari sekitar 50 pemain harpguitar professional dunia (lihat www.harpguitars.net). Harp guitar adalah alat music perpaduan gitar dan harpa.

Karyanya sebagai soloist harp guitar berjudul “Heavenly Earth Dance” (2005) dirilis di USA dalam album CD kompilasi berjudul “Beyond Six Strings” menampilkan 13 harpguitarist. Iwan adalah satu-satunya dari Asia, diantara harp guitarist dari USA dan Perancis. Lihat(http://www.harpguitarmusic.com/listings/a-hasan.htm)

Total diskografi Iwan pada saat ini sebanyak +- 30 album yang beredar di label Indonesia, USA, Perancis, Italia, dan Jepang dalam berbagai genre. Peran Iwan dalam album-album tersebut berbeda-beda antara lain sebagai artis, produser, artis tamu, arranger orkestra, vocal director maupun composer / pencipta lagu.

Di ranah Pop, Iwan telah membuat aransmen orkestra di album band pop seperti UNGU, ST12, dll . Aransemen orkestra Iwan untuk lagu “Demi Waktu” (Ungu) telah mengantar Ungu menjadi salah satu band papan atas di Indonesia. Iwan juga yang membuat aransmen orkestra pada hampir semua hit single UNGU sejak tahun 2005 hingga 2010 dan terkadang merangkap sebagai co producer.

Iwan juga membuat aransmen lagu di album atau single band atau artis pop dan rock lainnya seperti KLa Project, ST12, Piyu, The Rain, Boomerang, Dianita, Getah, Cendana Band, Presiden SBY dll.

Salah satu karya Iwan yang monumental di ranah Pop adalah intro orkestra instrumental di lagu hit single Ungu “Cinta Dalam Hati” (2006) serta komposisi “Overture” di album live Grand KLakustik dari KLa Project (2014)

Memelopori musik progresive jazz rock Indonesia ke kancah internasional bersama group Discus yang didirikannya. Mengedarkan albumnya dengan sukses dan tampil tour ke Eropa dan Amerika. Fan page Discus di Facebook didirikan oleh seorang penggemar berkebangsaan Perancis

Discus adalah satu-satunya artis Indonesia yang namanya tercantum di buku Progressive Rock Handbook, oleh Jerry Lucky. CG Publishing, 2008, ISBN 978-18949-59766.

PERJALANAN WAKTU

Tahun 1984 bersama group Sea Serpent yang dipimpinnya mengadakan pagelaran rock dengan gamelan berjudul “Mahabharata” di Teater Terbuka TIM

Menempuh pendidikan musik di Willamette University di USA selama 1998-1991. Belajar gitar klasik dan harpguitar pada John Doan. Belajar komposisi klasik kontemporer pada Prof. John Peel dan imporvisasi jazz pada Prof. Martin Bahnke.

Mendapatkan penghargaan “Outstanding Music Student Award” sebagai mahasiswa musik terbaik angkatannya di Willamette University. dia juga Pernah tampil bersama saxophonist jazz Lew Tabackin dan Don Lanphere

Komposisi karya Iwan berjudul “Images for chamber orchestra” dipagelarkan di Salem, Oregon, USA dengan sukses dan meraih standing ovation tahun 1991.

Menciptakan karya “Episodes for cello and piano” untuk Sherill Roberts, principal cellist dari Portland Opera Orchestra, 1992

Tahun 1995 menjadi conductor orkestra untuk ulang tahun ke 5 SCTV yang dibentuk oleh Franki Raden. Di sinilah, Iwan berkenalan dengan pemain clarinet Anto Praboe. Perkenalan ini merupakan cikal bakal pembentukan band Discus

Tahun 1996 membentuk Discus, yang kemudian dianggap pelopor musik progressive Indonesia dan satu-satunya group musik Indonesia yang memiliki fan base bangsa barat di Eropa dan Amerika. Discus kerap memadukan unsur etnik Indonesia dalam musiknya.

Tahun 1998 Iwan terpilih sebagai salah satu komponis yang tampil di Pekan Komponis IX, ajang prestigious untuk komponis klasik kontemporer Indonesia.

Tahun 1998 komposisi Iwan berjudul Transcultural Echoes on 33 Strings beredar di Indonesia dalam sebuah album kompilasi berjudul Gitar Klinik produksi Rotorcorp / Musica Studios. Album tersebut menampilkan 13 gitaris Indonesia.

Tahun 1999 Discus merilis album pertama “1st” yang beredar di label rekaman Italia, Mellow Records utk distribusi dunia dan kemudian di Indonesia dengan label Chico & Ira Productions.

Album “1st” versi Mellow Records mendapat ulasan sangat baik dari majalah-majalah musik progresif di Amerika, Italia, Jerman, Perancis, Belgia, Inggris, Uzbekistan, Argentina, Brazil dan Belanda. Majalah Prog-Resiste di Belgia menyebut album perdana Discus sebagai album progressive kelima terbaik sedunia tahun 1999.

Tahun 2000 Discus diundang tampil di festival ProgDay di North Carolina, USA dan sekaligus tour tampil di beberapa kota di USA. Tahun 2001 tampil di festival Baja Prog di Mexico dengan sangat sukses.

Karena tampil sukses dalam tour-tour ini ada empat label internasional yang berniat mengontrak Discus untuk album kedua: Periferic Records (Hongaria), Moonjune / Leonardo Pavkovic (USA), Iridea Records (Italia), serta Musea (Perancis). Akhirnya Discus memilih Musea.

Tahun 2004 Discus merilis album “…tot licht!” di label Musea (Perancis), Gohan Records (Jepang) dan PRS / Sony Music Indonesia. Album inipun kembali sukses dan mendapatkan pujian dari berbagai kritikus di media cetak maupun internet di berbagai negara seperti USA, Jerman, Perancis, UK, Italia, Switzerland, Mexico, Brazil, Jepang, Argentina, Belgia, dsb.

Tahun 2005 Discus melakukan tour Switzerland dan Jerman dengan sukses. Kedatangan Discus di Jerman disambut dalam upacara penyambutan khusus oleh Marion Schaffer, walikota Wurzburg

Di tanah air, Discus mendapat 2 buah piala menghargaan AMI SAMSUNG AWARD untuk album “…tot licht!” pada tahun 2004. Majalah musik MTV Trax edisi lokal menyebut Discus sebagai salah 25 musisi paling berpengaruh di Indonesia bersama tokoh-tokoh lainnya seperti Titiek Puspa dan Koes Plus.

Pada tahun 2005, majalah Rolling Stone versi Indonesia menempatkan album pertama Discus berjudul “1st” sebagai salah satu album jazz terpenting dalam sejarah musik jazz di Indonesia.

Tahun 2005 Iwan membuat aransmen orkestra di lagu “Demi Waktu” di album Ungu serta bermain piano di lagu tersebut. Sejak itu Iwan juga menjadi arranger orkestra di banyak lagu hits Indonesia di album-album Ungu, ST12, Boomerang, Piyu, Presiden SBY, The Rain, Getah, Cendana Band, Dianita dan KLa Project.

Pada tahun 2005 musik harpguitar tunggal Iwan Hasan dirilis di album kompilasi harpguitar pertama di dunia, “Beyond Six Strings” di USA. Iwan adalah satu-satunya musisi Asia yang tampil di album tersebut

Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone versi Indonesia menempatkan album pertama Discus berjudul “1st” sebagai salah satu dari 150 album musik Indonesia terbaik sejak tahun 1950.

Pada tahun 2009, Discus tampil dengan sukses di Festival Zappanale, Bad Doberan, Jerman. Sebuah festival musik yang paling bergengsi di Eropa. Dan selama 20 tahun berlangsung, Discus adalahband Asia pertama yang pernah diundang untuk tampil.

Pada akhir tahun 2009 Iwan bersama Andien serta pianist Mery Kasiman dan pemain tuba Enggar Widodo membentuk proyek / kelompok Chamber Jazz yang memainkan jazz dengan format yang hanya terdiri dari gitar, vocal, piano dan tuba. Group ini telah cukup sukses memberikan warna baru dalam dunia musik jazz Indonesia, termasuk tempil dengan sukses di JAVA JAZZ FESTIVAL 2011 serta 2013

Pada tahun 2011, album Discus berjudul “..tot licht!” sempat menempati urutan teratas / nomor 1 best seller penjualan di Amazon.co.jp (Amazon com Jepang) untuk beberapa minggu. Tidak lama kemudian sebuah band jepang memainkan cover lagu Discus “System Manipulation” di youtube.

Tahun 2011 menjadi salah satu arranger di album lagu-lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Iwan menjadi piñata music lagu “Berkelana Keujung Dunia” dengan penyanyi Agnes Monica dan Andy /rif. Tahun 2011 menjadi arranger strings dan / atau brass section di album solo Piyu Padi termasuk lagu hit “Sakit Hati” dan “Firasatku” (feat Inna Kamarie). Tahun 2011 membentuk band pop progresif Atmosfera, merilis album “Negeri Cinta”

Tahun 2012 menjadi salah satu bintang dalam pagelaran Tembang Harmoni bersama Twilite Orchestra, yang menampilkan banyak lagu ciptaan Presiden SBY. Tahun 2012 mendirikan group jazz Iwan Hasan Quintet. Tahun 2014 berkolaborasi dengan keyboardist legend Inggris Rick Wakeman (ex supergroup rock YES). Rick Wakeman menjadi bintang tamu dalam rekaman single Iwan yang diedarkan di album CD kompilasi musik progressive Indonesia berjudul Indonesia Maharddhika Juga beredar di iTunes internasional. Selain dengan Rick Wakeman, Iwan juga berkolaborasi dengan Gamelan Saraswati di lagu yang sama.

Tahun 2015 Iwan menerima piala penghargaan AMI AWARD (Anugerah Musik Indonesia) sebagai Artis terbaik kategori Produksi Karya Musik Progresif untuk lagu Indonesia Maharddhika. Tahun 2016 memproduksi single pertama putrinya, Jessica Xaviera. Tahun 2018 menjadi nominator AMI AWARD untuk kategori produksi lagu berlirik spiritual nasrani untuk lagu kolaborasi dengan Amelia Ong, “Jiwaku Memuliakan Tuhan” ciptaan Iwan. Tahun 2019 membentuk Iwan Hasan Progressive Jazz Ensemble yang tampil dengan sukses di festival Jazz Buzz Salihara dengan konsep musik penggabungan jazz rock dengan komposisi klasik kontemporer. Ensemble ini beranggotakan 12 orang (piano, bass, drum, string quartet, vibraphone, perkusi tradisi, alat tiup tradisi dan alat tiup barat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *