Kapan Film Indonesia Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?

by -

tabloidseleberita.com, Kendati junlah penonton film di tanah air mengalami tren yang meningkat demikian juga dengan produksi Film mengalami hal yang sama. Tetapi nyatanya film Indonesia tak juga bisa menjadi tuan rumah di Negeri sendiri. Fakta tersebut terungkap ketika Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengandeng Forum Wartawan Hiburan (Forwan) menggelar Seminar Film bertajuk Film Indonesia Menjadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri dan Tamu Mulia di Negeri Lain, dalam rangka peringatan hari film Indonesia yang jatuh tanggal 30 Maret.

Hadir sebagai Narasumber yang kompeten Djohny Syafruddin selaku ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Dian Srinursih Kepala Perijinan dan Pengendalian Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Yani Ketua Lembaga Sensor Film, Ody Mulya Hidayat (Produser Max Picture), Yan Wijaya Pengamat Film, Dimas Supriyanto (Wartawan senior), Nini Suny, dan Didang Prajasasmita (Wartawan senior/Forwan).

Menurut pengamat Film Yan Wijaya, Film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri, semua itu karena dominasi film asing masih kuat.

“Pada periode tahun 2018 saja, film asing khususnya dari Hollywood, India masih menguasai pasar film Indonesia,” sebut Yan.

Mantan wartawan Majalah Film ini, menambahkan secara bisnis film asing masih jauh lebih menguntungkan.

“Dengan Raihan penonton film Dilan yang mencapai angka 5 juta kita sudah bangga, padahal secara penghasilan dengan jumlah penonton yang sama film Marvel penghasilanya lebih besar ketimbang dengan Dilan,” jelas Yan.

Sementara Djonny Syafruddin selaku pengusaha Bioskop,  berharap pemerintah segera menurunkan dan menyeragamkan nilai pajak tontonan hingga sepuluh persen.

“Kalau bioskop bisa tumbuh di daerah-daerah sebagai basis penonton film Indonesia, pemerintah harus menurunkan pajak tontonan hingga sepuluh persen dan harus berlaku di seluruh Indonesia,” tegas DJohny.

Selain pajak tontonan yang masih tinggi Djohny juga menyoroti tingginya tarif dasar listrik untuk film.

“Mestinya pemerintah juga memberlakukan tarif khusus untuk bioskop, karena tarif yang ada sekarang masih terlalu tinggi,” sambungnya.

Dalam seminar juga diungkapkan bahwa tema cerita film saat ini semakin berkembang yang membuat penonton memiliki pilihan yang cocok untuk dirinya.

“Film Dilan baik 1990 dan 1991 adalah bukti bahwa film yang memiliki latar belakang cerita yang baik akan mendapat penonton yang banyak. Saya akan terus buat film dengan cerita yang baik dari penulis yang baik pula. Karena itu syarat utama film,” kata Ody Mulya produser Maxi Pictures.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *