Fatimah Az-Zahra, Miliarder yang Pernah Makan Ikan Bekas Kucing

by -

tabloidseleberita.com, Adalah Fatimah Az-Zahra. Satu dari sekian banyak perempuan di tanah air yang punya cerita perjalanan hidup yang inspiratif. Bagaimana tidak disaat banyak orang terkena PHK lantaran imbas dari badai Pandemic Covid 19 yang meluluhlantahkan banyak perusahaan dari skala kecil, menengah hingga besar. Dia justru sebaliknya malah ‘ketiban’ rejeki hingga berkelimpahan. Pandemic Covid 19 justru mendatangkan berkah buat Fatimah dan bisnisnya yang kini tercatat sudah menembus omset Miliaran rupiah.   

“Alhamdulillah, selama masa pandemi Covid-19, omzet perusahaan justru stabil oleh penjualan handsanitizer dan Virgin Coconut Oil (VCO) yang justru banyak dibutuhkan masyarakat guna meningkatkan imun tubuh. Itu sebabnya, kami tidak terpikir untuk melakukan perumahan atau PHK pada karyawan kami,” ungkapnya membuka perbincangan.

Kendati sudah beromset miliaran per bulan. Namun Fatimah mengaku semuanya itu tidak dicapainya dengan mudah. Ada usaha. Kerja keras dan air mata. Sekira Delapan tahun ia jatuh bangun membangun bisnisnya.

Fatimah juga diketahui punya kehidupan yang jauh dari kata mapan. Dia lahir dari keluarga miskin dan menghabiskan masa kecilnya di Kampung Citeras, Kecamatan Jawilan, Serang, Banten.

Saking miskinnya pernah satu waktu saat bulan puasa ia makan ikan dari sisa kucing, lantaran tak punya uang buat membeli makan.

“Pas mau buka puasa, ada kucing lewat depan saya sambil bawa (gigit) ikan. Pas lihat saya dia (kucing) kaget, sampai ikannya jatuh. Entah karena kasihan melihat saya atau bagaimana. Kucing itu pergi meninggalkan ikan yang dibawanya tersebut. Jadilah ikan bekas dari kucing itu yang saya makan,” kisah Fatimah.

Tidak sampai disitu saja. Masa dewasanya pun dialami dengan penuh kesusahan. Lantaran dirinya mengalami gangguan pada rahim, yang ditandai dengan seringnya pendarahan. Diagnosa awalnya adalah kista, tetapi dokter lain menyebut ada sel kanker. Untuk memastikannya, dokter memintanya melakukan papsmear dan harus di operasi.

“Saya sama sekali tidak punya biaya untuk tindakan operasi. Untuk makan sehari-hari saja tidak cukup dengan gaji saya sebagai guru les bahasa asing,” kenangnya kemudian.

Peristiwa tersebut membuat Fatimah tak ‘patah arang’ sebaliknya dia malah gigih mencari literasi dari internet terkait dengan penyakit kista yang dideritanya. Bagaimana cara kerja tubuh melawan kanker dan turutannya. Ia juga banyak mempelajari khasiat tumbuhan, akar-akaran, dedaunan tertentu. Semua dipelajarinya secara otodidak di sebuah warnet. Jadilah Virgin Coconut Oil (VCO) dari hasil risetnya yang tidak berbasis keilmuan.

Salah satu yang menarik perhatian, adalah Virgin Coconut Oil (VCO).VCO mengandung asam laurat yang tinggi, berkhasiat meningkatkan sistem imun tubuh. Padahal sistem imun akan memperbaiki kerja sel di seluruh organ tubuh dan menjadikan organ tubuh menjadi kuat melawan sel kanker.

Singkatnya, VCO diperlukan untuk menaikkan derajat sistem imun, sehingga mampu melawan sel penyebab kanker di organ tubuh. Inlah yang saya cari.

Dari sini pula pundi-pundi rupiah-nyasedikit demi sedikit terus menjulang. Hingga beromset Miliaran. Tercatat berdasarkan pengakuannya sekira dua ratusan produk sudah diciptakannya dan berhaasil diproduksi dan di jual secara masal.

Kesembuhan penyakitnya yang menjadi latar belakang melahirkan ide untuk berbagi kepada orang lain yang bermasalah dengan kesehatan. Mulailah dia berbagi bagaimana cara membuat VCO, yakni dengan tanpa pemanasan, tanpa enzimatis, dan tanpa bahan kimia. Benar-benar virgin.

“Saya tuliskan pula, “Anda yang punya masalah dengan kesehatan, silakan hubungi saya. Saya akan share cara membuat VCO yang baik untuk kesehatan”. Tidak lupa saya sertakan nomor telepon. Siapa sangka, kalimat yang demikian justru membuat orang lain respek dan yakin pada niat baik saya. Sebagai balasan yang saya terima, mereka justru minta agar saya membuat VCO, lalu kirimkan ke mereka,”bebernya.

Masih teringat dengan jelas dalam benaknya, ditahun 2012 order pertama lewat telepon sebanyak seliter VCO. Saya beri harga Rp 70.000, didasarkan pada harga bahan plus laba sebesar 50 persen. Hingga keesokan harinya kembali dapat order, pesan 5 liter VCO dan seterusnya. Pada awalnya VCO yang saya bikin dengan berbagai merek, tergantung permintaan. Selanjutnya, permintaan berkembang, diantaranya minta dibuatkan 1000 sabun VCO tanpa deterjen.

Fatimah Az-Zahra Bersama Suaminya, Kahfi Suresh

“Saya bersedia bikin 3.000 sabun, asal mereka berkenan kirim down payment (DP) terlebih dulu. Artinya mereka yang modalin saya untuk membuat Sabun VCO. Saya pun tertantang untuk membuat sabun VCO tanpa deterjen tapi berbusa. Kembali, saya browsing di internet hingga menemukan racikan yang pas. Demikian pula pesanan lotion dengan VCO dan pesanan baru lainnya, selalu saya mulai dengan browsing di internet,” jelasnya.

Para pemesan biasanya sudah punya pasar tapi tidak punya produsen, makanya ketika pesan mereka menitipkan merek juga.

“Jadi, awalnya VCO yang saya bikin dengan berbagai merek tergantung permintaan. Setelah punya modal barulah saya punya merek sendiri,”sambungnya.

Fatimah Az Zahra juga diketahui sebagai owner dari Batrisyia Skincare. Emas yang terkandung di Batrisyia berbentuk partikel nano. Kadar emasnya tidak terlalu banyak tapi partikelnya sangat kecil sehingga bisa masuk ke dalam lapisan kulit.

Tapi menurut Fatimah, memang ada sejumlah skincare yang mengaku memiliki kandungan emas 24 karat. Tapi setelah dipelajari, ternyata isinya hanya glitter warna emas.

“Jadi tidak semua yang mengaku emas, itu isinya emas,” tutur Fatimah.

Usaha ini mulai memperlihatkan hasil yang nyata pada tahun 2017. Alhamdulillah, sudah menangani ratusan produk dan omzet mencapai 1 Milar per bulan. Saat itu, mulai terpikir untuk bikin buku berjudul Omzet Miliar Tanpa Modal.

Manajemen perusahaan pun mulai dibenahi oleh Kahfi Suresh, suami saya. Kini sudah tertata dengan baik, selain membeli pabrik baru. Semua ini berdampak pada peningkatan omset menjadi 20 – 30 Miliar per bulan pada saat ini.

“Pada tahun 2019, kami mulai berinvestasi memiliki pabrik tambahan. Sekarang sudah menghimpun ratusan karyawan. Alhamdulillah, selama masa pandemi Covid-19 omzet perusahaan justru stabil oleh penjualan handsanitizer yang banyak dibutuhkan masyarakat. Itu sebabnya, kami tidak terpikir untuk melakukan PHK pada karyawan,” sebut Kahfi Suresh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *