Di Balik Sunyi Seorang Ibu: Alyne Maarif, Luka yang Lama Dipendam, dan Keberanian untuk Bersaksi

0



tabloidseleberita – Ada kehidupan yang berjalan di bawah cahaya panggung. Ada pula kehidupan yang tumbuh di balik tirai—sunyi, panjang, dan sering kali tak terlihat oleh mata publik.

Begitulah kisah yang perlahan terbuka dari kehidupan Alyne Maarif. Selama ini ia dikenal sebagai penyanyi sekaligus ibu dari Niloufer Bahlwan, yang akrab di mata penonton lewat perannya sebagai Agil dalam film Keluarga Cemara 2 serta Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta.

Namun kehidupan yang tampak tenang dari luar ternyata menyimpan cerita panjang yang tidak sederhana.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Alyne telah lama menjalani kehidupan pasca perceraian—sebuah perjalanan yang tidak sepenuhnya selesai meski hubungan pernikahan telah lama berakhir. Di balik keputusan berpisah itu, terdapat pengalaman yang diwarnai berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga: kekerasan finansial, tekanan psikologis, hingga kekerasan fisik yang pernah ia alami.

Perceraian itu sendiri bukanlah keputusan yang lahir dalam satu langkah.
Sebelum perpisahan benar-benar terjadi, Alyne telah dua kali mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Namun seperti banyak hubungan yang sarat manipulasi, setiap langkah menuju kebebasan sering kali diiringi keraguan, tarik-ulur emosi, dan harapan bahwa mungkin semuanya masih bisa diperbaiki.

Hubungan itu berlangsung bertahun-tahun hingga pada akhirnya perceraian justru terjadi melalui gugatan dari pihak mantan suami.
Pada saat itu Alyne tidak berada dalam posisi dengan kekuatan hukum yang memadai. Ia hanya ingin mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat. Dalam pikirannya, perceraian akan menjadi garis akhir konflik—sebuah kesempatan bagi setiap orang untuk melanjutkan hidupnya masing-masing.

Namun kenyataan ternyata tidak selalu bergerak sesuai harapan.
Pasca perceraian, konflik tidak benar-benar berhenti. Alyne tetap berusaha menjalani hidup secara normal dan tidak memperpanjang pertikaian. Ia bahkan membuka ruang komunikasi demi kepentingan anak-anaknya, serta tidak pernah melarang mantan suaminya untuk bertemu dengan mereka.

Namun dalam perjalanan waktu, pola kekerasan psikologis dan manipulasi disebut masih terus muncul—melalui tuduhan, penyalahkan, hingga praktik yang kini dikenal dengan istilah gaslighting. Pola yang perlahan mengikis ketenangan batin seseorang.

Situasi tersebut akhirnya membuat Alyne mengambil langkah tegas dengan melakukan cut off demi menjaga kesehatan mentalnya. Namun setelah batas itu dibuat, satu-satunya akses yang tersisa untuk masuk ke dalam kehidupannya adalah melalui anak-anak.
Di sanalah kekhawatiran seorang ibu mulai tumbuh.

Perjalanan ini juga meninggalkan luka pada kondisi psikologis Alyne. Ia pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan yang tinggi hingga akhirnya memutuskan mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis.
Ironisnya, langkah yang seharusnya menjadi bagian dari proses pemulihan itu justru dipelintir menjadi stigma dan pelabelan yang tidak berdasar.

Di tengah berbagai tuduhan dan fitnah yang berkembang, Alyne akhirnya mencari perlindungan melalui Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).
Melalui proses asesmen terhadap Alyne dan anak-anaknya, LPAI mengeluarkan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa anak-anak sebaiknya berada bersama ibunya serta memberikan batasan agar pihak mantan suami tidak datang tanpa pengaturan yang jelas. Namun hingga saat ini rekomendasi tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.

Situasi itulah yang akhirnya membuat Alyne memutuskan untuk buka suara. Bukan untuk menciptakan konflik baru atau mencari sorotan publik, melainkan karena ia merasa bahwa sesuatu yang dibiarkan terlalu lama dapat memberi ruang bagi tindakan yang sama untuk terus berulang.

Selama ini Alyne dikenal memilih jalur yang tenang dan prosedural. Ia berusaha tidak terseret ke dalam konflik terbuka di ruang publik. Sebagai seorang seniman, ia memilih menyalurkan pergulatan batinnya melalui karya.

Perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata ia tuangkan melalui lagu, tulisan, buku, serta jurnal pribadi. Di sanalah ia menuliskan luka, menata ulang emosi, dan menemukan kembali keseimbangan. Refleksi itu juga tercermin dalam album yang ia kerjakan, termasuk album Narc, yang memuat perjalanan emosional selama ia melewati masa-masa sulit tersebut.

Namun sebagai seorang ibu, Alyne menyadari bahwa ada titik ketika karya saja tidak lagi cukup. Ia mulai melihat perubahan dalam dinamika emosional anak-anaknya—sebuah fase pendekatan yang sangat intens yang menurutnya berpotensi diikuti pola manipulasi yang sama seperti yang pernah ia alami.

Alyne menegaskan bahwa ia tidak dapat tinggal diam melihat kemungkinan anak-anaknya masuk ke dalam siklus yang sama.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, ia mengaku telah mengumpulkan berbagai data serta melakukan pengamatan psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada anak-anaknya.

Meski ia percaya telah menanamkan fondasi pengasuhan yang kuat, kegelisahan seorang ibu tidak pernah benar-benar dapat diredam.
Langkah untuk berbicara secara terbuka ini pun bukan langkah pertama. Sebelumnya Alyne telah meminta pendampingan melalui berbagai jalur perlindungan, termasuk LPAI dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.

Baginya, ini adalah upaya terakhir untuk memastikan keselamatan emosional serta masa depan anak-anaknya tetap terjaga.
Ia juga menegaskan bahwa jika situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas, maka langkah hukum lanjutan bukan lagi sekadar kemungkinan. Ia menyatakan kesiapannya menempuh proses hukum secara penuh, baik dalam ranah perdata maupun pidana apabila diperlukan.

“Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak saya berpotensi terseret ke dalam pola yang sama yang pernah saya alami. Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat.”

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang perceraian atau perselisihan keluarga.
Ia adalah kisah tentang seorang ibu yang berdiri di antara masa lalu yang berat dan masa depan anak-anaknya—berusaha memastikan bahwa luka yang pernah ia rasakan tidak harus diwariskan kepada mereka. (NMC)

Leave A Reply

Your email address will not be published.