Kudus, Tabloidseleberita – Dani Mukti owner Wedding Organizer Pengantin Production kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya Jawa melalui penyelenggaraan upacara Tedak Siten Saka Amerta Nararya, putra pasangan Shah Sema Amukti dan Najla Adjani Mahendra, di Kudus.
Upacara adat Tedak Siten kembali menjadi sorotan publik, kali ini melalui konsep Saka Amerta Nararya yang menghadirkan perpaduan antara nilai tradisi Jawa dan sentuhan estetika modern. Ritual yang menandai fase awal seorang anak menginjakkan kaki di tanah ini tidak hanya menjadi simbol pertumbuhan, tetapi juga refleksi harapan orang tua terhadap masa depan sang buah hati.
Tedak Siten, yang berasal dari kata “tedak” (turun) dan “siten” (tanah), secara turun-temurun dimaknai sebagai momentum penting dalam siklus kehidupan anak. Tradisi ini umumnya digelar saat anak berusia sekitar tujuh hingga delapan bulan menurut penanggalan Jawa, sebagai simbol kesiapan memasuki kehidupan sosial.

Dalam konsep Saka Amerta Nararya, pelaksanaan Tedak Siten dikemas lebih terstruktur dan artistik tanpa menghilangkan nilai filosofis yang melekat. “Amerta” dimaknai sebagai kehidupan yang berkelanjutan, sementara “Nararya” merepresentasikan kemuliaan. Keduanya menjadi landasan dalam merancang prosesi yang tidak hanya sakral, tetapi juga berkelas.
Rangkaian prosesi tetap mengacu pada pakem tradisional. Anak terlebih dahulu berjalan di atas tujuh warna jadah sebagai simbol perjalanan hidup yang beragam. Selanjutnya, anak menaiki tangga yang terbuat dari tebu wulung, melambangkan tekad dan usaha dalam meraih cita-cita. Prosesi berlanjut dengan memasukkan anak ke dalam kurungan ayam yang berisi berbagai benda, mulai dari alat tulis hingga perhiasan, yang diyakini mencerminkan minat dan potensi masa depan.
Sebagai penutup, dilakukan prosesi siraman menggunakan air bunga serta penyebaran udhik-udhik oleh orang tua atau sesepuh sebagai simbol doa keberkahan dan kemakmuran. Anak kemudian dikenakan busana baru yang melambangkan kehidupan yang lebih baik ke depan.
Keunikan Saka Amerta Nararya terletak pada pendekatan visual dan tata acara yang lebih modern. Dekorasi dirancang dengan konsep etnik kontemporer, dipadukan dengan busana adat berkualitas tinggi serta dokumentasi profesional. Hal ini menjadikan Tedak Siten tidak hanya sebagai ritual keluarga, tetapi juga peristiwa budaya yang memiliki nilai presentasi tinggi.
Pengamat budaya menilai, inovasi semacam ini menjadi strategi efektif dalam menjaga relevansi tradisi di tengah perubahan zaman. Modernisasi yang dilakukan tanpa menghilangkan esensi justru memperkuat daya tarik generasi muda terhadap warisan budaya. Dengan demikian, Tedak Siten Saka Amerta Nararya tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan juga wujud pelestarian budaya yang adaptif. Tradisi leluhur tetap hidup, namun hadir dalam format yang selaras dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat masa kini.
Dani Mukti yang dikenal sebagai selebgram, salah satu pemain film Gadis Kretek, dan pemain FTV ini piawai mengemas acara tidak hanya sebagai prosesi adat, tetapi juga sarana edukasi budaya. Menariknya, sekitar 75 persen tamu undangan yang hadir merupakan anak-anak dari lingkungan sekitar.
Menurut Dani, konsep tersebut sengaja dihadirkan sohibul hajat untuk mengenalkan tradisi Tedak Siten kepada generasi muda agar budaya Jawa tetap dikenal dan diwariskan.
Keluarga Shah Sema Amukti dan Najla Adjani Mahendra sendiri telah mempercayakan berbagai momen penting kepada WO Pengantin Production mulai dari pernikahan hingga acara mitoni yang saat itu berkonsep wayang kulit dan sempat viral di media sosial. Kini, saat putra pertama mereka menjalani prosesi Tedak Siten, kepercayaan itu kembali diberikan kepada Dani Mukti dan tim.
Melalui acara ini, Dani Mukti berharap tradisi Jawa tidak hanya menjadi seremoni keluarga, tetapi juga menjadi media pembelajaran budaya bagi generasi penerus