JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Film horor komedi Dukun Magang tak hanya menawarkan kisah mistis yang dibalut humor, tetapi juga menghadirkan proses kreatif yang penuh improvisasi dari para pemainnya.
Sutradara Chiska Doppert mengungkapkan bahwa membangun keseimbangan antara unsur horor dan komedi dalam film ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Menurut dia, hal tersebut terbantu oleh karakter para pemain yang terbuka dan mampu beradaptasi dengan berbagai pendekatan selama syuting.
“Para pemain sangat fleksibel dan natural. Banyak momen lucu yang muncul begitu saja saat proses syuting berlangsung,” ujar Chiska.
Ia mengatakan interaksi antarpemain sering berkembang di luar yang telah direncanakan dalam naskah. Bahkan, tim produksi beberapa kali kesulitan menentukan kapan sebuah adegan harus diakhiri karena para pemain terus berimprovisasi.
Chiska berharap penonton dapat menikmati perpaduan komedi dan horor yang dihadirkan dalam film tersebut ketika tayang di bioskop.

Jefan Nathanio Merasa Dekat dengan Karakter Raka
Pemeran utama Jefan Nathanio mengaku memiliki banyak kesamaan dengan karakter Raka yang ia perankan dalam Dukun Magang.
Menurut Jefan, Raka merupakan sosok mahasiswa yang berpikir rasional dan cenderung skeptis terhadap berbagai hal, termasuk fenomena mistis yang dihadapinya sepanjang cerita.
“Raka itu seperti versi masa depan saya. Dia selalu berusaha melihat sesuatu secara logis,” kata Jefan.
Dalam film tersebut, Raka diceritakan berusaha menyelesaikan skripsinya melalui cara yang tidak biasa, yakni menjalani magang sebagai dukun.
Jefan menuturkan, fokus utamanya saat memerankan karakter tersebut adalah mempertahankan sisi skeptis Raka di tengah berbagai peristiwa gaib yang terjadi.
Ia juga mengenang salah satu adegan tersulit selama syuting, yakni pengambilan gambar di sungai yang membutuhkan persiapan panjang dan tenaga ekstra dari para pemain maupun kru.
Hana Saraswati Ungkap Sisi Berbeda Kuntilanak
Sementara itu, Hana Saraswati yang memerankan Sekar mengatakan tantangan terbesarnya bukan berasal dari adegan horor atau komedi, melainkan bagaimana menampilkan karakter yang lebih muda sesuai kebutuhan cerita.
Dalam film ini, Sekar digambarkan sebagai sahabat dekat Raka yang selalu berusaha membantu temannya menyelesaikan kuliah.
“Yang cukup menantang justru bagaimana membuat karakter Sekar terlihat lebih muda,” ujar Hana.
Selain itu, Hana mengungkapkan bahwa Dukun Magang menghadirkan interpretasi berbeda mengenai sosok kuntilanak.
Jika selama ini masyarakat mengenal kuntilanak sebagai sosok perempuan bergaun putih berambut panjang, film ini memperkenalkan tingkatan kekuatan kuntilanak berdasarkan warna.
Dalam cerita, kuntilanak hitam digambarkan memiliki kekuatan tertinggi, diikuti kuntilanak merah, sementara kuntilanak putih berada pada tingkatan yang paling umum dikenal masyarakat.
Fajar Nugra Tertarik karena Kekuatan Naskah
Aktor Fajar Nugra yang memerankan Boiman mengaku langsung tertarik bergabung dalam proyek tersebut setelah membaca naskahnya.
Menurut Fajar, kekuatan utama Dukun Magang terletak pada cerita yang mampu memadukan komedi dan horor secara menarik.
Ia juga menilai kehadiran konsultan komedi selama proses produksi menjadi salah satu faktor yang memperkuat kualitas humor dalam film tersebut.
“Selain naskahnya menarik, banyak pemain yang memang punya kemampuan improvisasi komedi sehingga proses kreatifnya terasa menyenangkan,” kata Fajar.
Dialek Jawa Jadi Tantangan Para Pemeran
Di sisi lain, sejumlah pemain harus menghadapi tantangan berupa penggunaan dialek Jawa demi mendukung karakter yang mereka perankan.
Mang Osa yang memerankan Karno mengaku menghabiskan waktu untuk mempelajari pelafalan dan intonasi bahasa Jawa agar sesuai dengan karakter seorang dukun dalam cerita.
Ia bahkan memanfaatkan berbagai referensi digital dan bantuan rekan sesama pemain untuk memperdalam logat tersebut.
Tantangan serupa juga dialami Adi Sudirja yang memerankan Mbah Djambrong. Aktor asal Medan itu harus beradaptasi dengan dialek Jawa sekaligus menjalani sejumlah adegan fisik yang cukup berat.
Salah satu yang paling membekas baginya adalah adegan di sungai yang mengharuskannya menahan napas dalam waktu cukup lama saat proses pengambilan gambar.
Meski penuh tantangan, para pemain berharap pengalaman dan kerja keras selama produksi dapat menghadirkan tontonan yang menghibur sekaligus memberikan warna baru bagi genre horor komedi Indonesia melalui Dukun Magang. (Hero)