Sezairi Bicara soal Album Surrender, Perjalanan Mengenal Diri Setelah 15 Tahun Bermusik

0

JAKARTA, TabloidSeleberita.com – Penyanyi asal Singapura, Sezairi, mengungkap cerita personal di balik album terbarunya bertajuk Surrender dalam sesi spesial bertajuk Surrender Sessions di SAE Institute Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Lewat album tersebut, pelantun lagu “It’s You” itu mengaku menemukan banyak hal baru tentang dirinya sebagai musisi maupun individu setelah lebih dari 15 tahun berkarier di industri musik.

Sezairi mengatakan, Surrender menjadi proyek yang sangat berbeda dibanding karya-karya sebelumnya karena untuk pertama kalinya ia mengambil peran besar sebagai produser album.

Padahal, sejak lama Sezairi dikenal lebih banyak tampil sebagai penyanyi.

“Aku sebenarnya dari dulu belajar audio production. Waktu kuliah, fokusku memang produksi musik, bukan nyanyi,” ujar Sezairi.

Pengalaman bekerja dengan banyak produser selama bertahun-tahun membuatnya tertarik mempelajari proses kreatif di balik layar. Ia mengaku kerap memperhatikan detail pekerjaan para produser saat berada di studio rekaman.

Keinginan untuk memproduksi albumnya sendiri semakin kuat setelah mendapat dorongan dari musisi sekaligus produser Petra Sihombing.

Menurut Sezairi, Petra menjadi salah satu sosok yang paling percaya terhadap kemampuannya untuk mengerjakan album secara mandiri.

Dari situlah lahir Surrender, sebuah album yang disebut Sezairi sebagai bentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Ia menyadari sejak awal bahwa warna musik yang dihadirkan dalam album tersebut mungkin tidak akan langsung diterima semua pendengar.
Namun, hal itu justru menjadi bagian penting dari proses yang ingin ia jalani.

“Album ini datang dari kesadaran bahwa aku tidak tahu segalanya. Jadi aku memilih untuk menyerah pada proses dan belajar lagi dari awal,” kata Sezairi.

Baginya, sikap tersebut membuka banyak ruang pembelajaran baru, baik dalam hal produksi musik maupun cara memahami dirinya sendiri.

Sezairi mengaku selama ini sering merasa harus terlihat tahu banyak hal karena takut dianggap tidak cukup baik. Namun dalam proses pembuatan album Surrender, ia berani mengakui bahwa masih banyak hal yang belum ia pahami.

Menurut dia, keberanian untuk berkata “aku tidak tahu” justru menjadi pengalaman yang mengubah hidupnya.

Tak hanya berdampak pada proses kreatif, perubahan cara pandang tersebut juga memengaruhi kepercayaan dirinya saat tampil di atas panggung.

Sezairi mengungkapkan bahwa di masa lalu ia sering meragukan dirinya sendiri meski tampil di hadapan ribuan penonton yang menyanyikan lagu-lagunya.

Kini, ia merasa lebih nyaman dengan identitasnya sebagai musisi.

Semakin bertambah usia, Sezairi merasa semakin memahami arah musik yang ingin ia ciptakan tanpa terlalu bergantung pada penilaian orang lain.

“Dulu aku selalu minta pendapat banyak orang. Sekarang aku lebih percaya dengan apa yang aku rasakan sendiri terhadap karya yang kubuat,” ujarnya.

Selain membahas album, Sezairi juga menceritakan pengalaman membangun label independen bersama sang istri, Shazza.

Selama dua tahun terakhir, keduanya bekerja bersama mengelola perjalanan karier musik Sezairi.

Meski diakuinya tidak selalu mudah, proses tersebut justru membuat mereka semakin mengenal satu sama lain setelah lebih dari 17 tahun bersama.

Bagi Sezairi, musik bukan sekadar soal lagu atau panggung, melainkan medium untuk menunjukkan sisi kemanusiaan yang jujur.

Karena itu, melalui album Surrender, ia berharap pendengar dapat merasakan emosi, keraguan, pembelajaran, dan perjalanan yang selama ini ia alami sebagai seorang manusia.

“Musik terlalu penting kalau hanya menampilkan hasil akhirnya. Yang penting juga adalah memperlihatkan sisi manusia di balik karya itu,” tutur Sezairi. (Hero)

Leave A Reply

Your email address will not be published.