JAKARTA — Transformasi tubuh Shindy Samuel dari 178 kilogram menjadi 67 kilogram tak hanya menjadi kisah sukses penurunan berat badan, tetapi juga membuka diskusi tentang pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Dalam acara bertajuk Second Beginning, Shindy mengungkap bahwa perubahan drastis yang ia alami membawa tantangan baru, terutama setelah berat badannya turun lebih dari 100 kilogram. Menurut dia, kondisi tubuh pascadiet tidak selalu seideal yang terlihat.
“Bukan hanya soal angka di timbangan, tetapi bagaimana tubuh beradaptasi setelah perubahan besar,” ujar Shindy.
Ia menjelaskan, salah satu dampak yang dialami adalah munculnya kelebihan kulit di beberapa bagian tubuh. Kondisi ini umum terjadi pada individu yang mengalami penurunan berat badan signifikan, terutama dalam waktu singkat.
Secara medis, kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya elastisitas kulit akibat peregangan dalam jangka panjang. Selain itu, faktor usia, genetik, serta metode diet juga memengaruhi kemampuan kulit untuk kembali mengencang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Shindy menjalani prosedur body contouring secara bertahap. Ia menekankan bahwa langkah ini bukan solusi instan, melainkan bagian dari proses pemulihan yang memerlukan pertimbangan matang, termasuk aspek keamanan dan waktu pemulihan.
Meski demikian, Shindy mengingatkan bahwa intervensi medis bukan satu-satunya cara. Ia tetap menekankan pentingnya pola hidup sehat sebagai fondasi utama.
“Kalau bisa dijaga dari awal lewat olahraga dan pola makan sehat, itu lebih baik,” katanya.
Lebih lanjut, Shindy menyoroti masih adanya kecenderungan masyarakat yang berfokus pada penampilan fisik semata, tanpa memahami proses di balik perubahan tubuh. Padahal, menurut dia, menjaga kesehatan membutuhkan komitmen jangka panjang.
Ia menilai tantangan terbesar dalam gaya hidup modern bukan hanya soal akses terhadap fasilitas kesehatan, melainkan konsistensi dalam menjalani kebiasaan sehat.
“Punya waktu dan fasilitas saja tidak cukup. Yang sulit itu konsistensi,” ujarnya.
Selain aspek fisik, Shindy juga menyinggung pentingnya kesehatan mental, terutama dalam menghadapi perubahan tubuh ekstrem. Ia menilai penerimaan diri menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Konsep Second Beginning yang diusungnya mencerminkan fase baru dalam hidup, dengan fokus pada keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Acara tersebut turut dihadiri sejumlah figur publik, termasuk Barbie Kumalasari.
Melalui pengalamannya, Shindy berharap masyarakat dapat memahami bahwa menjaga kesehatan bukan proses instan. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang aman, bertahap, dan berkelanjutan, sesuai dengan kondisi masing-masing individu. (Hero)