TabloidSeleberita – Jakarta, 7 November 2025 — Memasuki tiga dekade kiprah dalam mendampingi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia, Yayasan Spiritia merayakan perjalanan bersejarahnya dengan merilis sebuah karya musik penuh makna berjudul “Rengkuh Hati”. Lagu ini bukan sekadar persembahan ulang tahun ke-30, tetapi juga simbol harapan, empati, dan solidaritas bagi ribuan orang yang tengah berjuang menghadapi HIV/AIDS.
Dirilis resmi pada 7 November 2025, “Rengkuh Hati” menjadi bentuk refleksi perjalanan panjang Spiritia dalam membangun dukungan, menghapus stigma, serta menghadirkan ruang aman bagi penyintas HIV di seluruh Indonesia. Melalui lagu ini, Spiritia menegaskan bahwa perjuangan melawan HIV bukan melulu soal obat dan layanan kesehatan, tetapi juga tentang kemanusiaan—pelukan, keberanian, dan saling memahami.
CEO Yayasan Spiritia, Daniel Marguari, menegaskan bahwa lagu ini mewakili perjalanan penuh suka duka yang telah dilalui sejak 1995.

Menurutnya, “Rengkuh Hati” adalah ajakan bagi masyarakat untuk tetap membuka hati dan merangkul sesama tanpa memandang latar belakang.
“Tiga puluh tahun adalah perjalanan panjang. Lagu ini merefleksikan kasih, keberanian, dan harapan yang selalu kami bawa dalam mendampingi komunitas. Kami ingin masyarakat terus saling merengkuh,” ujar Daniel.
Lagu ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap orang, termasuk mereka yang hidup dengan HIV, layak mendapatkan dukungan emosional, kesempatan hidup yang setara, dan ruang untuk bertumbuh tanpa diskriminasi.
Vokal merdu dalam “Rengkuh Hati” dibawakan oleh penyanyi muda berbakat Keisha Amira, seorang siswi SMA dari Tangerang.
Meski ini merupakan debutnya, Keisha terlibat langsung dalam proses kreatif lagu, termasuk mendengarkan cerita-cerita mengharukan dari ODHA yang menjadi sumber inspirasi utamanya.
Keisha mengaku banyak mendengar kisah jatuh bangun para penyintas HIV—mereka yang pernah bahagia lalu harus menghadapi kenyataan pahit.
Dari situlah lirik-lirik penuh empati dan kekuatan itu lahir.
“Lagu ini adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak orang yang peduli. Walaupun terinspirasi dari kisah ODHA, pesannya universal: tentang harapan bagi siapa pun,” ungkap Keisha.
Di balik keindahan lagu ini, terdapat sosok Riosa Oktaf, vokalis sekaligus guru vokal yang merangkai lirik dan melodi dengan sentuhan emosional yang mendalam.
Ia menyebut proses penulisan lirik tidak lepas dari diskusi intens dengan tim Spiritia serta curahan hati para ODHA.
Riosa bahkan mengaku berkali-kali meneteskan air mata karena tersentuh oleh kisah perjuangan mereka.
“Saya ingin liriknya tidak hanya puitis, tetapi benar-benar mewakili perasaan para penyintas. Aransemen juga saya buat kompleks dan megah agar pesan lagu sampai dengan utuh,” katanya.
Dengan dukungan instrumen lengkap hingga elemen orkestra, Riosa berharap “Rengkuh Hati” mampu menggugah pendengar dari berbagai latar belakang.
Sejak berdiri pada November 1995, Yayasan Spiritia telah menjadi salah satu pilar penting dalam pendampingan ODHA di Indonesia.
Melalui program edukasi, advokasi, serta penguatan komunitas, Spiritia berupaya memastikan penyintas HIV mendapatkan perawatan yang setara dan hak hidup yang bermartabat.
Hingga 2025, Spiritia telah:
• Memberikan dukungan psikososial kepada lebih dari 220.000 ODHA
• Mendampingi hampir 200.000 ODHA dalam terapi antiretroviral (ARV)
• Mengedukasi lebih dari 800.000 masyarakat berisiko, dengan 70% di antaranya berhasil melakukan tes HIV
Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, pelukan hangat, dan semangat untuk saling menguatkan.
Lagu “Rengkuh Hati” tidak hanya menjadi penanda tiga dekade perjalanan Spiritia, tetapi juga jembatan emosional yang menghubungkan masyarakat dengan para penyintas.
Melalui musik, Spiritia ingin mengajak publik untuk:
• menumbuhkan empati,
• menghapus stigma sosial,
• memperkuat solidaritas bagi mereka yang hidup dengan HIV.
Dengan dirilisnya lagu ini, Spiritia berharap pesan tentang kemanusiaan, cinta, dan harapan dapat menyentuh lebih banyak hati serta menciptakan ruang aman bagi para penyintas untuk melanjutkan hidup tanpa ketakutan. (Hero)