Jazz Gunung Series Hadir didukung Penuh BRI Terdiri Dari Tiga Rangkaian Events

0

Tabloidseleberita, – Jazz Gunung Bromo kembali hadir di Amphitheatre Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukapura, Probolinggo. Pengalaman berbeda saat menyaksikan pertunjukkan Jazz Gunung Bromo dapat dirasakan dari pemandangan hijau pegunungan sebagai latar panggung yang menyegarkan mata, serta udara dingin dan sejuk yang terasa dari ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut.

Pada penyelenggaraan di tahun 2025 ini, Jazz Gunung Series hadir dengan dukungan penuh dari BRI terdiri dari tiga rangkaian events, yaitu

BRI JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO pada tanggal 19 Juli, dilanjutkan BRI JAZZ GUNUNG Series 2: BROMO pada tanggal 26 Juli, dan akan ditutup BRI JAZZ GUNUNG Series 3: IJEN pada bulan Agustus.

Dalam series 1 BRI – JAZZ GUNUNG BROMO  akan menghadirkan penampilan kelompok muda, Emptyyy, Trio “generasi mendatang” yang membuktikan eksistensinya dengan talenta luar biasa dalam musik jazz. penyanyi jazz yang performance-nya khas dan ia dikenal sebagai mantan VJ MTV, Jamie Aditya. Lalu juga ada kelompok campursari bersuasana jazz kental, Kua Etnika, Selain itu dua kelompok musik yang “populer” pada eranya masing-masing, RAN, grup muda tahun 2000-an terdiri dari trio Rayi, Asta dan Nino, dan  Kelompok “legendaris”, Karimata dengan pengalaman bermusik yang matang, dengan formasi perdana terdiri dari adalah Candra Darusman (kibor), Aminoto Kosin (kibor), Denny TR (gitar), Erwin Gutawa (bass) dan (Alm) Uce Haryono (drums), siap meramaikan BRI – JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO.

Ada lagi yang perlu ditunggu. Satu nama lain, yang didatangkan dari negeri Belanda, Chagall, musisi wanita, bermusik meriah, dengan musik khas electronic-music. Seorang penyanyi yang tengah naik daun di negerinya dan di Eropa dewasa ini.

Sebagai bagian dari rangkaian acara JAZZ GUNUNG SERIES, masih ada acara lain yang dihidangkan secara istimewa di tahun ini, seperti BRI – JAZZ GUNUNG Series 1 : BROMO yang menghadirkan Papermoon Puppet Theatre, yang akan berpentas selama 2 hari pada tanggal 19 dan 20 Juli. Dimana salah satu pertunjukannya akan digelar pada hari Minggu pagi, di kawasan pedesaan sekitar venue BRI – JAZZ GUNUNG Series 1: BROMO.

Menurut Bagas Indyatmono, CEO dari Jazz Gunung Indonesia, “Seperti tahun-tahun sebelumnya, JAZZ GUNUNG BROMO, akan menyajikan beragam musik, jazz and beyond. Bisa jazz, yang berolah bunyi dan rasa dengan ragam musik lain. Terutama dengan elemen musik etnik, yang dipersandingkan dengan harmonis”

Pada dasarnya kekhasan penyajian jazz dalam rupa festival, tambah Johan Pramono, sebagai CFO Jazz Gunung Indonesia, “Melanjutkan, mempertahankan dan mengembangkan dari konsep dasar yang dibentuk dan diinisiasi oleh para founder JAZZ GUNUNG BROMO, yaitu Sigit Pramono, Butet Kertaredjasa dan mendiang Djaduk Ferianto.”

Bagas Indyatmono lantas menambahkan, BRI – JAZZ GUNUNG Series di tahun 2025 memang direncanakan akan digelar dalam 3 series. Series pertama akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 19 Juli 2025 dan series kedua pada Sabtu, 26 Juli 2025, kedua series tersebut akan berlangsung di kawasan Gunung Bromo. Sementara itu, series ketiga akan diselenggarakan di Banyuwangi, Ijen pada bulan Agustus 2025. Di rentang waktu antara series pertama dan kedua tersebut, akan diisi oleh residency program Bromo Jazz Camp.

Program Bromo Jazz Camp sendiri akan menjadi “rumah utama” dari penyelenggaraan jam-session, yang mengambil tempat di Rehat Bromo. Karena nyawa dari sebuah festival jazz adalah jam-session, maka kali ini momen tersebut mulai digelar saat series pertama, yang diharapkan semua musisi performers akan dapat berpartisipasi.

Arris pendukung Jazz Gunung Series

Dalam BRI – JAZZ GUNUNG Series 2: BROMO, akan tampil beberapa performers, yang tentu berbeda dari series pertama. Ada Lorjhu’ yang telah melepaskan single, “Malem Pengghir Sareng” (yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai, “Malam di Pesisir”). Sajian musik Lhorju’ bertema dasar folk atawa “musik rakyat”, dan memilih untuk berbahasa Madura.

Selain itu dipastikan juga ada nama-nama yang tidak kalah menarik, ada penampilan dari a young talented jazz-singer, Natasya Elvira. Selain itu, masih ada Bintang Indrianto, seorang Bassist senior tampil dalam format trio, menghadirkan konsep yang melihat jazz dari “sisi yang berbeda”, Masih ada Tohpati Ethnomission. Gitaris ini mengedepankan jazz “bersuasana Indonesia” dengan kelompoknya, yang dibangun sejak 2009. Memadukan gitar, bass, drums “barat”. Dengan kendang, gong, kenong dan suling, “Nusantara”. Musiknya juga terkesan ramai dan bergairah.

Pada BRI – JAZZ GUNUNG Series 2: BROMO akan disempurnakan oleh penampilan Sal Priadi, si “Gala Bunga Matahari”, yang datang “Dari Planet Lain”. Penyanyi ini melejit setelah lagu-lagu yang dibawakannya, menjadi viral di sosial media. Masih ada nama lain yang datang dari Perancis, Rouge. Mengusung tema musik yang cenderung sedikit folk, dan terkesan dominan suasana riang gembira seolah menebarkan kegembiraan dan energi positif di tengah udara dingin pegunungan. Pada kesempatan BRI – JAZZ GUNUNG Series 2: BROMO, telah disiapkan satu nama populer yang sudah pasti dikenal publik, penyanyi wanita nan cantik, Monita Tahalea. Seorang penyanyi berpengalaman yang banyak menjajaki panggung berbagai acara jazz. Monita Tahalea akan menjadi sajian khusus pada special show di tanggal 25 Juli 2025.

Selanjutnya, JAZZ GUNUNG SERIES akan berlanjut dengan BRI – JAZZ GUNUNG Series 3: IJEN pada bulan Agustus 2025, yang diselenggarakan di Amphitheatre, Taman Gandrung Terakota, Banyuwangi. Sederet musisi berpengalaman dengan penampilan unik, menarik, dan yang tentunya bakal mempesona penonton!

Vinsensius Jemadu Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan dalam keterangan di acara jumpa pers yang digelar Kamis 3 Juli 20205 di Auditorium IFI Jakarta Pusat menjelaskan tentang peluang untuk menyempurnakan BRI Jazz Gunung Series terbuka dengan pandangan dari Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan, Vinsensius Jemadu, menyampaikan janjinya untuk mendukung kegiatan event BRI Jazz Gunung Series ini.

 “Bahkan nanti untuk BRI Jazz Gunung Series 3 Ijen di tanggal 9 Agustus 2025, saya sudah berbicara dengan penyelenggara dimana nanti kita bisa berkolaborasi”. ungkapnya

Dirinya melanjutkan, “Sebenarnya ada beberapa skema dukungan dari Kementerian Pariwisata, pertama yang pasti adalah amplifikasi promosi, dimana Kementerian Pariwisata akan menggunakan semua channel media promosinya, bahkan termasuk LED, Videotron yang berada di depan Patung Kuda di Kementerian Pariwisata bisa kita manfaatkan untuk bisa mengekspos kepada masyarakat luas. Sehingga nanti level of tendensinya jauh lebih banyak. Begitu juga media sosial yang dimiliki oleh Kementerian Pariwisata,” tegasnya.

Dukungan kedua Vinsen menyebutkan terkait sarana dan prasarana. “Jadi kalau kita bisa bicara bahasa birokrasi kita akan bisa melihat komponen-komponen yang sekiranya bisa kita pertanggung jawabkan untuk kita dukung maka ayo kita dukung. Apakah itu panggung, lighting, atau line up artis, jadi ada beberapa komponen yang bisa kita dukung, tetapi sekali lagi ditengah-tengah efisiensi dan penghematan seperti ini tentunya Kementerian Pariwisata juga tahu diri, kira-kira sejauh mana kita bisa support,” tandasnya.

Dan yang ketiga menurutnya yang paling pasti adalah doa, agar event ini berjalan dengan lancar dan sukses. “Apalagi event ini dilaksanakan di gunung jangan sampai nanti ada yang kedinginan dan lain-lain. Jadi kita mengharapkan ini berjalan dengan baik, lancar, dan sukses,” tutupnya.

Sementara itu Sigit Pramono Founder Jazz Gunung dalam keterangan menjelaskan bahwasanya Jazz Gunung merupakan salah satu festival jazz pertama yang digelar di alam terbuka, bahkan di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Suhu bisa mencapai 6 hingga 7 derajat Celsius. “Selama 17 tahun penyelenggaraan, baru tahun ini Jazz Gunung mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah lewat kehadiran Vinsensius Jemadu dari Kemenpar. Semoga dukungan kementerian tidak hanya berhenti di tataran wacana, tapi bisa diwujudkan agar manfaat ekonomi lebih terasa bagi masyarakat sekitar.”harapnya

Ditambahkannya juga bahwa Jazz Gunung kini berkembang menjadi BRI Jazz Gunung Series, sebuah rangkaian festival jazz di berbagai gunung seperti Bromo, Ijen, hingga Slamet, yang ide awalnya lahir dari diskusi dengan Andi F. Noya. Format “series” ini dinilai lebih menguntungkan secara komersial, baik bagi sponsor maupun pemerintah, karena mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih merata.

Andy F Noya  Advisor Jazz Gunung Indonesia yang ikut hadir di acara tersebut menuturkan Jika ada satu yang unik dari Jazz Gunung, selain memang tempat atau venuenya di ketinggian, tapi kita bisa melihat bahwa selama ini musik Jazz itu dianggap terlalu ekslusif kemudian segmentasi nya sempit sekali sedemikian rupa sehingga banyak orang-orang yang merasa bahwa mereka bukan menjadi bagian dari kegiatan Jazz ini. Padahal Jazz sebagai musik itu sifatnya universal dan kalau kita lihat lagi kalau kita bicara Blues itu adalah teriakan orang-orang yang merasa memberontak, tapi kalau kita Jazz itu sebenarnya membuka diri, inklusif, kesetaraan, keberagaman. “ Ini dipertunjukan dengan baik di Jazz Gunung.” tegasnya

Dijelaskan Andy F Noya jika penonton mungkin tidak terlalu memperhatikan, bahwa Jazz Gunung ini mengajak kolaborasi jenis musik yang lintas genre. Kalau kita melihat yang paling sukses menurut saya ketika kita mengundang Didi Kempot dan respon yang cukup mengagetkan, dimana penonton menyanyikan semua lagu-lagunya yang di aransemen oleh Djaduk Ferianto kala itu. Lagu-lagu di nyanyikan Didi Kempot bersama-sama penonton dalam suasana dingin dengan aransemen musik Jazz.

Menurutnya Jazz juga membuka diri bagi kesenian yang lain yaitu sendratari, kesenian tari, atau kesenian dan tari. Seperti di Jazz Ijen Banyuwangi dimana Jazz Gunung mengundang teman-teman untuk menari Gandrung, karena disana ada Sewu Gandrung.  Jadi kolaborasi antara Jazz, tari Gandrung, dan kemudian kita mengundang maestro sinden Bu Temu, “coba dibayangkan seorang Bu Temu udang dalam usianya sudah sepuh banget diundang dan kemudian penonton itu merinding menontonnya dimana Bu Temu menyinden diringi oleh tarian, dan itu sebagai pembuka Jazz Gunung Ijen waktu itu” ungkapnya

Dari sini kita bisa melihat kolaborasi antara musik jazz dan ini hanya untuk menunjukkan bahwa musik jazz itu tidak eksklusif, dimana kita membuka diri untuk berkolaborasi dengan seni-seni lainnya. Selain itu kita juga mengundang musisi internasional untuk datang dengan ciri khas musik lokal mereka walaupun tadi disebutkan kalau sekarang lebih ke kontemporer,  “ dan itu tidak apa-apa karena akarnya masih terasa bahwa ini masih Prancis, Irlandia,  dan lain-lain misalnya” tutup Andy F Noya

Leave A Reply

Your email address will not be published.