Film Horas Amang Manivestasi ‘seperti Bapa sayang anaknya’

by -

tabloidseleberita.com, – Prinsip teguh yang dipegang orang batak jelas tersirat lewat lagu yang berjudul Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au (anakku adalah hartaku) ciptaan Nahum Situmorang yang juga pernah dipopulerkan oleh penyanyi Victor Hutabarat.

Sepertinya kita semua sepaham dengan judul lagu diatas bahwa anak sejatinya memang adalah harta sesungguhnya buat orang tua. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam budaya batak, bahwa sekeras apapun kehidupan yang dijalani orangtua akan berjuang asalkan anak-anaknya bisa sekolah dan kelak menjadi sukses.

Penggalan kisah ini juga yang nampaknya menjadi garis besar dan sejalan dengan alur cerita di Film ‘Horas Amang’ tiga bulan untuk selamanya.

Kendati berlatar budaya Batak, namun film drama keluarga ini tetap bisa dinikmati oleh penonton dari manapun. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan sang produser Asye Berti Saulina Siregar saat press conference film Horas Amang di Jakarta Selatan, belum lama ini.

“Filmnya sebenarnya ini universal, hanya judulnya saja yang bahasa Batak, dan kebetulan para pemainnya juga mayoritas orang Batak. Di film ini sesungguhnya menekankan bagaimana sejatinya kasih seorang Bapak yang sayang sama anaknya,” kata Asye Berti selaku Excutive Produser Film Horas Amang.

Asye Berti pun menuturkan bahwa film yang diproduserinya ini ingin dia persembahkan kepada seluruh anak-anak di Indonesia (khususnya orang batak) dan siapapun yang merasa masih memiliki Ayah.

“Saya mengajak mereka untuk menonton film ini, terutama orang-orang Batak yang berada di manapun. Film ini sarat akan pesan moral yang luar biasa, jadi jangan dilewatkan begitu saja,” ujar Asye Berti.

“Saya yakin ketika keluar dari ruang bioskop setelah menyaksikan film ‘Horas Amang’, bakal terjadi kebersamaan antar anggota keluarga,” sambungnya.

Lebih lanjut, Asye Berti mengutarakan jika Horas Amang, yang disutradarai Steve Wantania, bercerita tentang seorang Ayah yang luar biasa, yang menginginkan ketiga anaknya berdiri sendiri dan jadi anak yang bermanfaat.

Bukan hanya memikirkan kemandirian atau pendidikan sang anak, sang Ayah juga memikirkan bagaimana ketika anaknya jauh dari orang tuanya tetap bisa menjadi anak yang berbudi, rendah hati, tidak sombong, dan mau menghargai orang lain,” jelasnya.

Dalam film garapan rumah produksi Prama Gatra Film, Tanta Ginting berperan sebagai Maruli, anak kedua dari Amang yang diperankan oleh Cok Simbara.

“Di sini gue berperan sebagai Maruli. Gue anak kedua dari Amang. Film ini tentang keluarga, fokusnya dengan ayah yang ingin menunjukkan cintanya kepada anaknya. Soalnya bapak orang Sumatera itu sangat misterius di film ini,” kata Tanta Ginting dalam jumpa pers di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (20/9).

Sekalipun film Horas Amang Tiga Bulan Untuk Selamanya mengangkat cerita tentang adat Batak, Tanta Ginting memastikan ceritanya menarik dan mudah dipahami karena menggunakan bahasa Indonesia.

“Film ini berlatar belakang adat Batak, tapi ceritanya universal dan dengan bahasa Indonesia. Film ini diperuntukkan buat masyarakat Indonesia. Semoga film ini menjadi tontonan buat masyarakat Indonesia,” harap Tanta Ginting.

Selain menampilkan Tanta Ginting, Horas Amang juga dibintangi oleh Cok Simbara, Novita Dewi Marpaung, Tanta Ginting, Vanessa, Dendi Tambunan, Jack Marpaung, Piet Pagau, Indra Pacique, dan Manda Cello.

Film layar lebar yang kental dengan nuansa budaya Batak, Horas Amang – Tiga Bulan untuk Selamanya bakal segera tayang di bioskop-bioskop Tanah Air pada 26 September mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *