Fanny Chan Raih 1 Juta US $ Lewat Van Sulam Alis

by -

tabloidseleberita.com, Sukses di usia muda bukan lagi isapan jempol belaka. “Banyak cara, selagi ada niat, terus berusaha, bekerja keras dan pantang menyerah pasti ada jalan. Saya itu sebelumnya juga sudah ‘kenyang’ ditipu orang. Pengusaha yang sukses itu pasti pernah ngalamin ditipu dan bangkrut,” kata Fanny Wiratma Chandra berprinsip selaku owner dari Van Sulam Alis Academy membuka perbincangannya ketika ditemui di salah satu cabang Van Sulam Alis Academy di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Barat, pada Selasa (11/6).

Fanny demikian perempuan keturunan Tionghoa ini biasa disapa, berkisah bahwa suksesnya yang diraihnya saat ini bukan ditebus dengan cara yang instant melainkan banyak proses jatuh bangun mewarnai perjalanan Van Sulam Alis hingga besar seperti saat ini. Fanny juga menyebutkan bahwa sebelumnya ia hanya seorang makeup artist di tahun 2011, profesinya tersebut membuatnya merasa tidak bisa mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi.

Namun kini memang tak banyak orang yang tahu jika sosok gadis asal Surabaya ini adalah owner dari Van Sulam Alis & Academy, sebuah bisnis usaha yang ia rintis dari nol. Walaupun masih berusia 28 tahun, kemampuannya dalam berbisnis ternyata tak bisa dianggap remeh.
Bermula di tahun 2013, dengan modal utama sebesar 500 juta dana segar yang dia peroleh dari orangtuanya di Surabaya, Fanny memulai bisnis usahanya dengan membuka salon kecantikan.

kini sudah 17 cabang dimiliki oleh Van Sulam Alis

Dalam perjalanannya dengan modal dana yang besar ternyata tak membuat Fanny bisa mendatangkan keuntungan di bisnis perdananya tersebut. Manajemen yang buruk adalah faktor utama yang membuat bisnis salonnya menjadi terseok-seok, misalnya saja seperti terlalu banyak staff, discount harga yang berlebihan dan juga pembelian barang (inventaris) salon yang diimpor mahal dari luar negeri.

“sebelum bisnis sulam alis saya memulainya dengan membuka usaha salon kecantikan dengan modal 500 juta dan itu ngutang sama oarangtua, rugi karena belum punya pengalaman, terlalu banyak staf dan barangnya impor dari Jerman. Harganya banting-bantingan biar dapet pelanggan bayangkan sekali potong itu cuma 50 ribu, cuci blow 35 ribu, jadi cost operasional nggak sebanding dengan modal yang sudah kita keluarin,” ucapnya.

Kejadian tersebut tak membuat Fanny patah semangat, dirinya tetap percaya kalau bisnis dibidang kecantikan tetap mempunyai peluang masa depan. Seiring berjalannya waktu Fanny pun mendapat masukan dari ayahnya untuk mencoba menjalankan bisnis sulam alis yang saat itu memang sedang booming. Fanny pun mencoba bisnis sulam alis tersebut dengan tekad bahwa dirinya harus bisa bangkit dari keterpurukan yang sebelumnya pernah dialaminya. Keseriusannya itu ditunjukan dengan kembali bersekolah sulam alis di Cina, Korea, Amerika dan Eropa. bermodalkan bekal ilmu dan semangat, secara perlahan Fanny coba menjalankan bisnisnya tersebut.

Ketika itu sulam alis menjadi solusi pilihan jasa terakhir yang ia sediakan di salonnya. Itu sebabnya kenapa disalonnya Fanny hanya menyediakan satu meja, kursi, dan alat bahan seadanya. Melihat peluang di bisnis “menggambar alis” tersebut, ia pun memutuskan untuk menutup salon dan fokus mengembangkan bisnis barunya.

“iseng-iseng mau ganti bisnis tapi nggak jauh dari kecantikan juga. Waktu itu 2013 ayah saya bilang sulam alis lagi booming. Banyak yang gak tau sulam itu apa. Sempat sekolah di Cina, Korea, Amerika dan Eropa. Saya mulai buka sulam alis di salon, iseng-iseng dulu awalnya gak ada di daftar harga salon. Sekali sulam dulu 1,5 juta awal-awal. 1 bulan 1 orang, 3 orang sampai 10 orang, sampai akhirnya dalam 1 hari bisa ngerjain 10 orang buat sulam alis aja. Saya belajarnya dari Cina, Korea, Amerika dan Eropa, gurunya gak terbatas jadi kita sering terus update ilmunya,” tuturnya.

Dari yang awalnya mengontrak, akhirnya pada 2015 Fanny juga dapat membeli ruko pertamanya yang terletak di Pakuwon City, Surabaya. Di tahun 2017, Fanny kembali sudah membeli ruko keduanya yang terletak di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta utara.

“Sulam alis belum menjadi tren di tahun itu. Jika hanya mengandalkan salon saja, saya tidak bisa mengembalikan modal ratusan juta yang saya pinjam. Tapi untungnya setelah 2 tahun menjalani bisnis sulam alis, saya bisa balikan modal dan membeli ruko di Pakuwon City. Awalnya, untuk sulam alis, ia menawarkan harga mulai Rp 1,5 juta, tetapi saat ini sudah Rp 3 juta dengan waktu pengerjaan sekitar 1,5 jam—rata-rata hasil sulam alis bertahan 2-3 tahun;” sambungnya.

disela kesibukannya, Fanny tetap meluangkan waktunya untuk mengajar anak didiknya di Van Sulam Alis&Academy

Tidak berhenti sampai disitu sukses dengan bisnis sulam alis, Fanny terus melakukan terobosan dalam bisnisnya tersebut, Fanny juga membuka sekolah/kursus yang dibuka untuk umum yang diberi nama Van Sulam Alis & Academy. Untuk mendaftar, peserta kursus harus membayar biata sebesar Rp 3 juta untuk 2 hari pertemuan hingga Rp 35 juta untuk 12 hari pertemuan. Peserta belajar mulai dari jam 09.00-15.00 setiap harinya.

Lembaga kursusnya tersebut juga resmi terdaftar di Dinas Pendidikan. bahkan disebut-sebut bahwa Van Sulam Alis Academy merupakan satu–satunya lembaga kursus yang bersertifikat Dispendik pertama di indonesia. Nantinya peserta yang sudah lulus kursus, akan mendapat sertifikat/ijazah dari Dinas Pendidikan, berikut dengan ijazah resmi international dari Academy Korea. Inilah yang membuat keunggulan Van sulam alis & academy dibandingan dengan pebisnis yang sejenis. Total sudah ribuan murid yang sudah lulus dari menempuh pendidikan bersamanya.

Suksesi tersebut membuat Fanny tidak mengurus lembaga kursusnya seorang diri, ia pun kembali membuka peluang bisnis dengan sistem kemitraan sehingga dapat memperluas cabang ke berbagai kota. Untuk ada di Kemang, Pantai Indah Kapuk, Tangerang, Cengkareng, Bekasi, Bali, Medan, balik Papapn, Tarakan, dan Surabaya. Tercata hingga saat ini ada 17 cabang yang sudah dimilikinya.

“disini mitra cukup membayar biaya Rp.75 juta, di mana mereka akan mendapat lisensi selama 2 tahun, royalty fee 12,5 persen dari omset jasa, alat dan bahan beli putus. Alat dan bahan impor dari Korea, Amerika, dan Taiwan. Walaupun bermitra, ia tetap memastikan akademi cabang berjalan baik. Ia pun memberi pelatihan kepada orang-orang yang kemudian akan mengelola cabang tersebut terdiri dari satu kepala cabang, admin, dan asisten pengajar.

dengan teliti dan rapih, Fanny turun langsung menangani customer

Van Sulam Alis & Academy bisa menerima peserta kursus 10-15 orang/cabang/bulan, baik dari masyarakat umum hingga seorang dokter. Setelah lulus, mereka diberi kesempatan untuk untuk study tour ke Cell Line Academy di Korea selama 5 hari. Di sana mereka dapat mendapat ilmu sulam alis langsung dari pakarnya.

“Setiap tahun saya selalu mengupgrade ilmu tentang sulam alis, saya akan selalu pergi ke luar negeri untuk belajar mengenai bisnis ini. Ilmu dari sana, kemudian saya kembangkan di Indonesia, dan disesuaikan dengan karakter konsumen di sini,” sebut perempuan yang pernah belajar sulam alis di Cell Line Academy, Korea.

Keuntungan yang didapat oleh para mitra pun sangat banyak, diantaranya penggunaan merk dagang Van selama 2 tahun, alat dan bahan, 1 orang untuk dilatih menjadi guru sekaligus ahli sulam, serta program komputer. Dengan Modal yang minim namun omset puluhan juta, para mitranya bisa mendapat BEP dalam waktu 6–12 bulan saja.

“Mitra hanya perlu menyediakan tempat usaha & Sumber Daya Manusia (SDM) 2 orang, sisanya pusat yang akan membantu mencarikan pasien dan murid kursus,” terang Fanny, sambil menunjukkan 2 buku profile perjalanan hidupnya yang sudah di publish di seluruh toko buku di indonesia yang berjudul “Indonesia’s Sucessful Young Entrepreneurs” dan “Most Inspiring Entrepreneur”.

Buah dari usaha dan kerja keras Fanny tidak pernah ingkar atas dirinya, oleh karenanya Fanny mengaku selama 6 tahun menjalankan bisnis sulam alisnya tersebut dia memproyeksikan sudah meraih 1 juta US dollar atau setara 10 Milyar rupiah di usianya yang masih 28 tahun, dengan status single. ditambah dengan beberapa aset properti seperti Rumah, Ruko dan beberapa kendaraan premium.

di usianya yang masih 28 tahun, dari bisnis sulam alis, Fanny sudah mempunyai beberapa ruko, rumah dan mobil mewah serta beberapa aset lainnya

“di usia saya yang masih 28 tahun, dari bisnis sulam alis yang sudah saya jalankan 5-6 tahun kerja ini, saya sudah mempunyai beberapa ruko, rumah dan mobil mewah serta beberapa aset lainnya, bahkan bisa menghasilkan sampai 1 juta US Dollar. Omset setahun karena kita masih di UMKM jadi bisnisnya itu setahun dapat sekitar 4,8 M. jadi sebulan ratarata 300-400 jutaan,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *