dr Yuliana Resolina, MM, Diantara Bisnis dan Kehidupan Sosial

by -

tabloidseleberita.com, Segala sesuatu yang berhasil tentu ada proses, ada perjuangan dan ada harga yang harus dibayar.

Demikian juga halnya yang dilakukan oleh Yuliana Resolina, perempuan kelahiran 25 Yuli ini memilih memulai bisnisnya pada 2001 ketika dirinya berada di semester lima fakultas kedokteran, UPN, Jakarta dengan membuka klinik kecantikan.

dr Yuliana Resolina, CEO PT Yabeta Indonesia, sekaligus owner Juliet Capulet

Awalnya perempuan yang akrab disapa dengan Yuli ini membuka bisnis klinik kecantikan dibantu dengan beberapa orang dokter estetika yang di rekrutnya. Belajar bisnis secara otodidak membuat dia mengalami jatuh bangun dalam usaha. Yuli termasuk perempuan yang puya tekad dan keberanian mengambil resiko.

Lewat bendera PT Yabeta, Yuliana membagi dua lini bisnisnya yaitu Kosmetik dan Food. Yuli juga mendirikan klinik kecantikan dengan mengusung merek VZ Skin Care pada 2006 silam. Seiring berjalannya waktu klinik kecantikannya berkembang, tangan dinginnya membuahkan hasil. Dalam setahun sudah ada 12 cabang VZ Skin Care.

Dengan sistem waralaba, produk ini dipasarkan ke seluruh Indonesia mulai dari Jabodetabek, lalu Aceh, Bali, Banyuwangi, Majalengka, Medan, Padang, Kupang NTT, hingga Biak dan Papua.

“Kami tak sekadar ingin memberikan layanan kecantikan dan kesehatan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi banyak orang untuk bisa maju, mandiri, dan kreatif,” kata Yuli.

Sukses VZ Skin Care mendorongnya masuk pasar ritel dengan membesut merek Nefertiti. Berbagai produk perawatan kulit, hair mask, hair spa Nefertiti bisa dijumpai di toko khusus kosmetik, salon dan Arum Dalu Spa, yakni spa khusus untuk perawatan organ intim perempuan.

Berjalan dengan sistem waralaba, VZ Skin Care nyatanya sudah tersebar secara nasional, malah rencananya tidak menutup kemungkinan akan terbang ke kawasan Asia dan Eropa.

“Sejauh ini manufaktur kosmetik mulai 2006, ada 500 brand, ada brand dari Malaysia, dan Jepang. 3 brand yang kita punya adalah Nefertiti, Arumdalu, dan VZ,” sambung Yuli.

“Saat ini, fokus saya justru lebih ke produksi, karena bahan bakunya banyak diambil dari petani-petani di daerah, ” kata ibu tiga anak ini.

Menurut Yuli, ilmu kedokteran yang diperolehnya telah banyak membantu usaha bisnisnya. Ia juga memperdalam bidang spesialis kulit dan estetika di Singapura. Yuli juga melanjutkan S2 Manajemen Kesehatan di Institut Bisnis Manajemen. Hal ini guna kelancaram bisnisnya.

“Ilmu kedokteran tetap terpakai. Justru ilmu itu dasar saya menjadi pengusaha kosmetik. Kalau saya tidak tahu ilmu kedokteran tidak mungkin saya bisa tahu detail membuat kosmetik,” ungkap ibu tiga orang anak ini.

Yuli berharap dengan kehadiran produk-produk dari PT Yabeta Indonesia maka dapat mengubah mindset orang-orang Indonesia jadi lebih mencintai produk lokal.

Yuli juga diketahui aktif dalam kegiatan di Womenpreneur Comunnity, Yayasan Citra Kasih Abadi dan Lions Club. Dari sana dia bersentuhan langsung dengan para petani dan nelayan serta wirausaha kecil dan menengah.

Mimpinya bisa menjadikan bisnis kecantikannya tumbuh dan berkembang seperti Sariayu, Mustika Ratu, Ristra dan Wardah.

“Visi saya adalah supaya UKM kita bisa bersaing di mancanegara, karena negara kita ini negara yang kaya akan sumber daya alamnya, jadi sayang kalau tidak digunakan. Apalagi syarat sebuah negara bisa dikatakan maju apabila mempunyai enterpreneur sekitar 2% dari populasi masyarakat,” bebernya.

Yuli juga berkisah bercerita ketika membangun manufaktur kosmetik dia hanya punya satu apoteker dan peracik. Pembuatan masih dikerjakan manual. Tetapi dia tetap yakin. Alhasil kini Yuli telah mempunyai pabrik di kawasan Gas Alam, Cimanggis, Bogor, dan sudah memiliki karyawan hingga ratusan orang.

Selain beragam usaha dan produk yang pernah dibuatnya. Lewat PT Yabeta Indonesia perempuan bergelar master manajemen kesehatan ini juga membuka bisnis Juliet Capulet, Coffee and kitchen.

“Juliet Capulet ini adalah etalase dari pencarian saya ke daerah untuk mendistribusikan hasil kekayaan alam mereka, saya juga tertarik pada industri kopi,” ujar ibu tiga anak ini.

“Misalnya ketemu petani kopi, kunyit, jahe, hasilnya bisa kita buat jamu dan produk kopi olahan, bisanjuga dijadikan bumbu masakan di Juliet Coffee. Jadi setiap ke daerah saya jadi punya niat sosial sekaligus membantu mereka. Cita-cita saya adalah berguna untuk orang lain,” beber Yuli ketika ditemui di Juliet Capulet Coffee di kawasan Margonda, Depok, Jawa Barat.

“Visi saya produk Indonesia bisa dipakai didunia, orang luar bisa menggunakan bahan baku dari Indonesia, seperti sagu dan kopi dari Maluku, itu kualitasnya bagus. Kita juga ke maluku mengajarkan masyarakat disana bagaimana bisa menjadi enterperneur, dari masyarakat produknya kita beli dijual di Jakarta seperti sagu dari maluku, minyak kelapa, dan gula aren,” sambung Yuli.

Sementara itu Nanda Cahya Wicaksono, selaku Bisnis Development Manager Cafe Juliet Capulet mengatakan, makanan khas di cafe Juliet Capulet adalah sop iga dengan kelembutan dagingnya.

Cafe yang letaknya tidak jauh dari toko buku Gramedia ini, memiliki makanan khas ‘Sop Iga’ dengan kelembutan daging dan cita rasanya. Tentunya, menu lainnya juga tidak kalah menariknya. Mulai dari ayam bakar, ayam goreng, ayam rica-rica, ayam penyet, bistik ayam lada hitam, bistik ayam saus ayam jamur. Setidak ada 31 menu makanan yang memiliki cita rasa tinggi.

Nanda Cahya Wicaksono, Bisnis Development Manager, Juliet Capulet

“Yang membedakan sop iga cafe Juliet Capulet adalah, dagingnya yang lembut, tentunya selain dengan menggunakan bumbu penyedap alami,” kata Nanda di Cafe Juliet Capulet, di Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Senin (22/4/2019).

“Favorit khas minuman di cafe ini, chruncy almond choco frappe, coffe romeo dan selfie latte. Tapi, menu minuman lainnya juga tidak kalah menariknya,” sambung Nanda.

Mengenai pemilihan nama Juliet Capulet, Yuliana, selaku Founder dari cafe ini, menjelaskan, nama diambil dari nama tokoh di novel ‘Romeo and Juliet’. tokoh di novel ‘Romeo and Juliet’. Ada pun namanya Juliet, karena perempuan. Dan sesuai konsep cafe ini, homey,” urai perempuan yang hobi travelling ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *