dr Ayu Widyaningrum Sebut “Siapa Bilang Orang Miskin Nggak Bisa Sukses”

by -

tabloidseleberita.com, Nama dr Ayu Widyaningrum, MM, Master of AAM, and Master of IBAMS kini sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat dan media. Selain sudah dikenal oleh publik, dokter bertubuh mungil ini juga dikenal dengan ragam  prestasinya. sukses dalam karir sukses juga dalam kehidupan berumah tangga, demikian prinsip yang dianut oleh perempuan kelahiran Kota Baru 12 Agustus 1990 itu.

Kesuksesan tersebut tentunya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh masa lalunya yang berasal dari keluarga sangat sederhana. Didikan kedua orangtuanya yang keras seolah membentuk karakter dirinya yang juga pantang menyerah dan pekerja keras.

Dia menyebutkan sebelum meraih kesuksesan seperti saat ini, pemilik klinik Widya Esthetic ini punya jalan cerita berliku. Kehidupan masa kecilnya yang serba pas-pasan membuat dr Ayu Widyaningrum harus meniti pendidikannya juga ditengah kondisi serba sulit. Walau kedua orangtuanya berpendidikan rendah namun mereka mendidik dr Ayu dengan disiplin tinggi. Kala itu yang ada dalam pikirannya semua orang mau berasal dari keluarga miskin pun pasti bisa menggapai sukses. Semua kisah hidup dr ayu Widyaningrum tersebut tertuang di halaman buku “Profil Wanita Inspirasi Indonesia” yang diterbitkan Pusat Profil dan Biografi Indonesia. Dalam serial buku “Kekayaan yang Tersembunyi, Konsep dan Pemikiran Wanita Sukses”

“Bapak saya itu tidak lulus SD dan ibu saya tidak lulus SMP. Tapi, itu justru membuat saya termotivasi untuk bisa sekolah tinggi walau dengan apapun rintangannya. Justru itu membuat saya bangga. Saya bisa sampai di sini karena kedua orangtua saya mendidik saya secara disiplin dan kerja keras untuk semua ini. Dulu itu Kalau nggak dapat ranking di sekolah, saya bisa-bisa dikurung di kandang ayam. Siapa bilang anak yang terlahir dari keluarga miskin nggak bisa sukses, semua kembali pada niat dan kemauan kita masing-masing. Lihat saja orang-orang sukses di Indonesia maupun dunia, kebanyakan mereka adalah berasal dari keluarga yang susah,” sebut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin ini usai peluncuran buku Mahakarya ‘Profil Wanita Inspirasi Indonesia’ di Ballroom Hotel Mercure, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Widya demikian sapaannya mengaku bisa mencapai kesuksesan seperti ini tentunya tak semudah membalikan telapak tangan. Butuh usaha, semangat, kerja keras dan pantang menyerah.

“Semua yang saya dapat ini tidak datang kebetulan, saya harus kerja keras sendiri dan memulai semuanya dari nol,” kata ibu tiga anak ini.

Widya mengaku lahir dari keluarga yang minim soal pendidikan. Kedua orangtuanya tidak tamat sekolah. Tidak ingin seperti orangtuanya Widya pun tekun belajar.

Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil, di Widya selalu keluar sebagai juara kelas di kampung halamannya, Kotabaru. Usahanya juga membuahkan hasil yang akhirnya membawa Widya masuk SMAN 1 Banjarmasin kelas akselarasi.

Hanya dua tahun belajar di sekolah favorit, Widya diterima kuliah Fakultas kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Dari tempaan disiplin tinggi inilah, akhirnya dr Ayu berhasil meraih jenjang pendidikannya hingga di bangku universitas dengan baik.

“Saya masuk ke kedokteran pun lewat jalur Pencarian Minat dan Bakat Khusus (PMDK). Kalau nggak lewat situ, mana saya mampu biayain kuliah di kedokteran,” katanya.

Dan kini, kerja keras, keuletan, kejujuran dalam bekerja, plus kemampuan berinovasinya membuahkan hasil yang sebelumnya hanya bisa diimpikannya saja.

“Jadi nggak selamanya kesuksesan itu lantaran kita punya uang. Tanpa uang banyak pun kita bisa meraih kesuksesan, asal tekun dan giat dan tak takut gagal,” tegas ibu dari Alif Barra Pratama, Ben Alfariq Ramadhan, dan Juna Abinaya Alexi ini.

Walau memang diakuinya, model didikan keras seperti yang dilakukan orangtuanya dulu sudah tidak cocok lagi diterapkan pada anak-anak milenial seperti sekarang.

“Anak milenial sekarang itu harus kita didik dengan anggap mereka seperti teman. Tapi tetap harus ada reward dan punishment,” terang pemilik gelar Master of AAAM dan Master of IBAMS ini.

Widya yang dahulu memilih menikah muda itu sudah dikaruniai tiga orang putra, makanya kenapa dia memutuskan untuk menjadi dokter spesialis kecantikan (estetika), supaya jam kerja dan waktu bersama keluarga tidak terganggu.

“Saya pikir kalau jadi dokter spesialis kan kerjanya harus malam di rumah sakit. Sedangkan saya sudah berkeluarga dan dulu itu masih punya anak kecil. Lalu saya pikirkan jadi dokter estetika saja, yang waktu kerjanya hanya dari pagi sampai sore saja di klinik, habis itu saya bisa fokus urus keluarga dan anak-anak saya. Makanya buat saya kesuksesan itu tidak ada artinya kalau keluarga kita berantakan,” kata dia.

Kini dengan keahliannya sebagai dokter estitika, Widya bisa mengubah wajah yang bermasalah lewat sentuhannya menjadi lebih cantik dan sempurna. Widya mengaku dirinya adalah tipe wanita yang tergolong peduli. Bisa membantu orang yang membutuhkan adalah kepuasan tersendiri baginya.

“saya buka klinik tidak semata-mata mencari keuntungan saja tapi juga membantu pasien yang berpenghasilan menengah kebawah yang ingin cantik saya bantu dengan harga yang tidak pernah ‘mencekik’ mereka. Ada misi sosial juga didalam bisnis saya,” sebutnya.

Dan kini, dokter yang sudah merampungkan studi Anti Aging Medicine di Universitas Udayana, Bali ini pun tengah bersiap meluncurkan inovasi barunya.

“Tunggu saja waktunya. Pokoknya saya tidak akan lelah menciptakan inovasi-inovasi baru dalam produk perawatan kecantikan di klinik saya,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *