“Teman Dylan” Totalitas Seni Budaya Berbalut Kedai Kopi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

TabloidSeleberita.com, Dheyna Hasiholan atau yang akrab dipanggil Dylan, mempunyai niatan membuat kantong-kantong budaya untuk mengangkat potensi kesenian maupun kebudayaan yang ada di daerah.

Salah satunya adalah dengan berencana membuka kedai kopi sebagai sarana berkumpulnya para penggiat seni di daerah, seperti Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara. Menurutnya, kedai kopi itu menjadi wadah sesama penggiat seni dan budaya yang dinamai ‘Teman Dylan’ untuk bersilaturahmi.

Teman Dylan adalah suatu tawaran solusi sebagai wujud dari mewadahi gerak kreasi dan kreativitas pemuda (khususnya kelompok millenial) dalam berbagai bidang seperti seni dan budaya. ‘Teman Dylan’ bukan sekedar ikon kedekatan hubungan personal orang per orang semata, tetapi ini juga adalah kolaborasi ide kreasi dan kreativitas lintas latar belakang untuk mengakselerasi pemberdayaan potensi masyarakat dari berbagai komunitas”, ungkap Dylan, saat ditemui di Ground 57, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (26/10).

Dylan kemudian berkisah, di era 90-an, terkait dirinya yang pernah membuat sebuah warung internet (warnet) dengan harga sewa murah. Sejak awal warnet itu memang tidak untuk berbisnis namun sengaja untuk tempat berkumpul. Dengan harga sewa sangat murah. Sejak awal warnet itu dibuka warnet itu tak pernah sepi.

Dan diharapkan dengan adanya Kedai Kopi ini dapat menjadi ajang berkumpulnya berbagai macam komunitas

Teman Dylan adalah suatu tawaran embrio baru kolaborasi antar komunitas berbasis lokal yang diharapkan bisa menginspirasi di level yang lebih luas,” tukasnya.

Sebelumnya, bapak tujuh anak ini pernah membangun komunitas unik yang dinamai Cak Tarno Institut. Itu merupakan komunitas yang menguji skripsi para anggotanya. dengan diskusi secara bebas. Jika skripsi anggota itu ‘lulus’ di Cak Tarno Institut maka kemungkinan besar juga akan lulus di ujian sebenarnya. Komunitas ini pun sudah ‘menghasilkan’ sekitar 30 doktor dan banyak lagi lulusan S1 di UI.

“Tak hanya sebagai inspirasi, Teman Dylan diharapkan menjadi motor kemajuan seni budaya di Kebumen, Purbalingga dan Banjar negara,” ucapnya.

Saat ini Dylan berencana membuat Kedai Kopi sebagai sarana berkumpulnya para pegiat seni di daerah sekitar Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara. Tempat ini diharapkan bisa terjalin tali silaturahim sesama pegiat seni dan bisa melahirkan kegiatan kegiatan berkesenian supaya ada rutinitas, minimal Kedai Kopi ini bisa menjadi media apresiasi bagi pegiat seni di daerah tersebut.

Seperti diketahui Dylan sendiri adalah seorang politisi yang juga aktif di dunia teater sejak masih kuliah maka tak mengherankan jika perhatiannya akan dunia teater sangat besar. Dylan banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat berkumpulnya para pegiat seni. Di sana dia berdiskusi dan bertumbuh, baik secara intelektual maupun secara jaringan.

Selain itu, Suami Nur Komala Dewi yang dikaruniai 7 orang anak ini juga cukup aktif di berbagai organisasi mahasiswa di UI seperti Senat Mahasiswa, Koperasi Mahasiswa, Resimen Mahasiswa, dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia.

Setelah lulus, Dylan kemudian aktif di ormas Poros Indonesia dan PP GP Ansor, kemudian dilanjutkan aktif di dunia politik dengan di PDI, PDIP, PNBK kemudian menjadi Tim Nasional Kampanye PKB, hingga kemudian menjabat Wakil Sekjen PKNU.

Please follow and like us:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

57 − 55 =