“Racun Yang Berbahaya” Duo SIANIDA, Menyempal Untuk Menginfiltrasi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Sianida

Kalau istilah “berbeda” dianggap terlalu mainstream, unik dianggap biasa dan nyeleneh sudah kadung identik dengan “kegilaan”,  bagaimana kalau kemudian semua istilah itu dijadikan satu untuk berkarya? Ok, kita sebut saja nyempal. Dan duo gres bernama SIANIDA ini pantas ditahbiskan sebagau duo nyempal.

SIANIDA sebagai racun yang mematikan, sudah banyak yang tahu. Riwayat panjangnya sebagai salah satu pembunuh makhluk hidup –termasuk manusia—terentang panjang dalam banyak kisah. Kemampuan “mematikan” inilah yang diadopsi Bagus NTRL [vokalis/bass] dan DJ Stroo ketika bersenyawa bareng menggarap proyek musikal. Dan mereka menyebutnya, SIANIDA.  Rilisan yang sedang mereka persiapkan berjudul ‘Racun Yang Berbahaya’.

Secara musikal, Bagus NTRL yang dikenal sebagai vokalis band pop-punk, muncul dengan karakter suara yang sudah dikenal sebelumnya. Bagus seperti menjerit, melenguh, atau terdengar seperti meluapkan amarah, meski tak banyak lirik kata yang diumbar di lagu ini. Sementara DJ Stroo yang belakangan mulai membubung di banyak event, lebih banyak menyusupkan patternelectonic music, bersinggungan dengan kegelisahan rock lewat besetan gitar yang dimainkan Puguh Kribo, yang ‘mampir’ di lead gitar.

“Ketika muncul ide ini, yang pertama ada di kepala adalah musik yang benar-benar jarang muncul dan jarang dimainkan. Mau dianggap memanfaatkan momen silakan, dianggap tidak lazim ya silakan saja. Kami hanya ingin bermusik dan menghilangkan batasan mainstream dan non-mainstream,” papar DJ Stroo, pria yang juga produser single ini, dengan ciri khas kepala botak ini kalem.

Sementara Bagus NTRL yang sebelumnya pernah bikin proyek solo album, menganggap SIANIDA ini sebagai “virus mematikan” untuk meracunikreatifitas yang lebihluas. “Ini justru menjadi katalis untuk gila-gilaan dengan ide dan kreatifitas yang seluas-luasnya. Kami sih yakin, musik seperti ini akan berada di tataran yang akan digilai kok,” celetuk vokalis berkumis yang juga berkepala botak ini.

Aliansi botak punk, dengan botak electronic music itulah yang kemudian menjadikan duo SIANIDA ini masuk kategori nyempal tadi. Mereka terang-terangan tidak berpijak pada tren, mainstream, atau “musik enak” yang bakal jadi radio darling misalnya. Karakter dominannya pada drum, bass dengan aksesoris pada gitar. Lirik lagu yang terdengar minimalis –untuk tidak mengatakan irit kata—adalah bentuk perlawanan SIANIDA pada musikalitas yang terlalu biasa.

SIANIDA memang nyempal. Kalau kemudian sempalan ini berkembang liar jadi arus musik utama, kita harus bingung, Benar, bingung dengan pemikiran tak lazim yang kemudian jadi lazim kelak. Bagus NTRL dan DJ Stroo, mungkin sekarang tak menyadari polahnya, tapi ketika kelak ada followernya dan banyak yang terinfiltrasi, siap-siap bikin sempalan baru saja yang lain.

Pernik yang selama ini jadi abai, diperhatikan detil di tunggalan ‘Racun Pembunuh Manusia’ ini. DJ Stroo selaku produser dibantu Ressa R.M, sebagai co produser. Urusan logo SIANIDA dipasrahkan kepada Cak Khobir, dipadukan dengan aartwork oleh Erick MixMedia. (Jokoholic)

Please follow and like us:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

57 − 50 =