Hammersonic 2018, Gelaran Musik Metal yang Sarat Dengan Pesan Moral, Kritik Sosial dan Perlawanan!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

TabloidSeleberita.com, Dentuman drum dan sengatnya distorsi gitar yang memekakan gendang telinga dari panggung Hammersonic 2018 seolah menjadi sinyal masuk kepada para penikmat musik metal untuk keluar dari persembunyiannya di berbagai penjuru, Minggu 22 Juli 2018.

Vokalis baru band Saintloco Dimas saat tampil dalam festival musik Hammersonic di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Minggu (22/7). Sebanyak 38 band tampil dalam acara akbar bagi penikmat musik keras ini.

Berlokasi di Pantai Carnaval Ancol, Ada tiga panggung berdiri dalam gelaran Hammersonic 2018 kali ini yaitu Main Stage yang menjadi panggung untuk para pengisi acara utama serta dua panggung yang lebih kecil yaitu Hammer Stage dan Sonic Stage yang diisi band-band dalam dan luar negeri, tentu dengan kekuatan audio yang juga tak sekencang panggung utama.

Para pengisi acara tampil secara estafet dari pagi hingga hari berganti. Susunan acara dibuat hampir tanpa jeda. Saat salah satu pengisi acara tengah mempersiapkan kebutuhan teknis di salah satu panggung, tanpa komando, penonton bergerak ke panggung lainnya yang menyajikan musik cadas berkualitas dari band dalam dan luar negeri.

Sarat Pesan Moral, Kritik Sosial dan Perlawanan! In Flames menjadi pengisi acara utama beraliran heavy metal, atmosfer punk begitu kental dalam Hammersonic 2018. Maka, tak heran jika kritik sosial, politik, dan kemanusiaan berhamburan dari para penampil. Suara-suara perlawanan terhadap ketidakadilan bergelora sepanjang acara bahkan sampai ke gerai-gerai makanan di area bagian belakang lokasi acara.

Temanya beragam mulai dari pembelaan terhadap hak-hak binatang, nasionalisme, antikapitalisme, sampai antirasisme. Namun dari semua itu, apa yang disampaikan band kontroversial asal Meksiko Brujeria adalah yang paling pedas, berkesan, dan mendapat banyak respons penonton.

Matahari mulai menepi tiba saatnya Brujeria naik panggung utama. Kerumunan massa pun langsung terbentuk dan bergoyang bersama. Di sela-sela penampilannya, mereka bercerita, “Kami sudah berkeliling dunia dan di manapun berada, kami menyuarakan protes keras tethadap kebijakan-kebijakan Donald Trump. Di sini di Indonesia, kami juga ingin meneriakannya.

Mereka pun melanjutkannya dengan meneriakkan kalimat-kalimat kecaman keras terhadap Donald Trump. Presiden Amerika Serikat itu belum lama ini mengeluarkan peraturan pemisahan imigran dengan anak-anaknya. Sebelumnya, Donald Trump juga memunculkan wacana membangun dinding di sepanjang perbatasan kedua negara.

Lain halnya dengan band asal Majalengka Kameradz yang mentas menjelang hari gelap. Kameradz membuka penampilannya dengan pembacaan puisi soal takhayul pembangunan dan soal ketidakadilan yang merurikan kaum miskin dan masyarakat petani. Kritik mereka selaras dengan kondisi terkini di Majalengka.

Jika kita menyimak kabar terbaru, di sana sawah dan ladang terus rontok digerus pembangunan. Belum lagi industri genting Jatiwangi yang kini mulai kehilangan nama karena para pelaku usahanya beralih pekerjaan menjadi buruh pabrik. Aksi paling menarik perhatian dari Kameradz boleh jadi adalah saat mereka menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan aransemen khas hardcore yang tak dapat dimungkiri terasa begitu menggetarkan.

Sementara band punk rock legendaris Dead Kennedys tetap di jalurnya dengan menyampaikan semangat kesetaraan dan antirasisme. Semua disampaikan dengan pembawaan kocak Ron Greer. Holliday in Cambodia menyudahi penampilan Dead Kennedys malam itu dengan suasana penuh kebersamaan.

Sementara di panggung Hammersonic Festival 2018 di Ancol Carnaval Beach, Jakarta Utara, Minggu (22/7/2018), Otong ‘Koil’ menghancurkan gitarnya.

Aksi pemilik nama lahir Raden Mas Julius Aryo Verdijantoro itu dilakukannya usai membawakan dua lagu pertama. Ia bertanya siapa dari ratusan penonton di depannya yang berulang tahun hari ini. Otong berniat memberi hadiah gitar yang telah dibubuhi tanda tangannya.

Namun, pria berambut gondrong itu kemudian mengurungkan niatnya. Otong malah lanjut menyanyikan empat lagu metal dengan distorsi gitar yang melengking dan tabuhan drum berenergi.

Di penghujung penampilannya, mengambil gitar flying-v merah yang tadi nyaris ia berikan kepada seorang penggemar.

Detik-detik terakhir lagu “Kenyataan Dalam Dunia Fantasi” dibawakan, Otong lalu menghantamkan gitarnya ke lantai hingga hancur. Sebuah atraksi penutup yang sudah menjadi ciri khasnya.
Otong sebelumnya pernah membanting gitar ala The Who dan membakar gitar Flying-V saat tampil bersama Koil di panggung-panggung musik.

Please follow and like us:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

95 − 87 =