Film Stadhuis Schandaal Benarkah Sudah Menjawab Kebutuhan Kaum Milenial?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

TabloidSeleberita.com, Rumah produksi Xela Pictures merilis film berlatar belakang sejarah dengan judul ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’. Film besutan sutradara senior, Adisurya Abdy itu coba menghadirkan sebuah film dengan setting jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu, namun dikemas dengan rasa kekinian. Hal ini bertujuan supaya kaum milenial saat ini mudah memahami setiap peristiwa pada jaman dahulu dengan jelas dan menghibur.

“Tidak hanya dikemas dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya juga terpenuhi. Sehingga generasi muda bisa mengetahui sejarah yang belum terungkap. Stadhuis Schandaal sendiri merupakan strategi khusus. Kata tersebut memiliki arti ‘skandal sebuah gedung tua’. Gunanya agar penonton sejak awal sudah mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang jaman Belanda” kata Adisurya Abdy .

 

Film bergenre drama thriller berkisah soal persabahatan antara dua mahasiswa perempuan yang penuh misteri. Secara singkat, film ini bercerita tentang Fei yang diperankan oleh Amanda Rigby yang sedang melakukan riset di kota tua Batavia untuk menyelesaikan tugasnya. Fei didatangi Gadi blesteran Belanda-Jepang bernama Sara (Tara Adia).

Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung museumJakarta, yang terkenal dengan museum Fatahillah. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menunjukkan abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal”, jelas sutradara era tahun 1980an itu.

 

Film ini juga turut dibintangi sederet bintang baru dan senior yang telah lama malang melintang di industri perfilman, seperti Near Fuady, George Mustafa Taka, Roweina Umboh, Rensy Millano, Julian Kunto hingga Aby Zabit. Film ini pun telah mengambil lokasi shooting di dua negara yakni, Indonesia terdiri dari Jakarta dan Pangkalan Bun Kalimantan serta Tiongkok di kota Shanghai dan Ningbo.

“Kami pun membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1500 m persegi di kawasan Pejaten Pasar Minggu Jakarta yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagaimana digunakan oleh industri film modern saat ini,” kisah Adisurya.

 

Film berdurasi 120 menit akan segera tayang di bioskop Tanah Air mulai tanggal 26 Juli 2018 mendatang.
“Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini”, ucap Alexander Sutjiadi, selaku pemilik XELA Pictures dan Produser Eksekutif Film ‘Sara 8: Fei, Stadhuis Schandaal’.

Untuk penata musik dari film ini sendiri, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerjasama dengan Adisurya Abdy dengan menyajikan kembali Iagu ciptaannya berjudul ‘Syair Kehidupan’yang cukup populer dan diaransemen ulang serta dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

Please follow and like us:
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

32 − = 26